Logo Bloomberg Technoz

Nikel Sulit Dijual ke Smelter, Formula HPM Dinilai Perlu Revisi

Azura Yumna Ramadani Purnama
09 July 2026 10:50

Ekskavator memuat truk dengan bijih nikel mentah di dermaga pelabuhan Thessaloniki./Bloomberg-Konstantinos Tsakalidis
Ekskavator memuat truk dengan bijih nikel mentah di dermaga pelabuhan Thessaloniki./Bloomberg-Konstantinos Tsakalidis

Bloomberg Technoz, Jakarta – Indef Green Transition Initiative (GTI) menilai harga patokan mineral (HPM) bijih nikel perlu segera direvisi, sebab menyebabkan banyak penambang sulit menjual bijih ke smelter. 

Alasannya, HPM baru membuat harga bijih naik lantaran turut mempertimbangkan kandungan mineral ikutan seperti besi, kobalt, dan krom, serta faktor kadar air atau moisture content.

Head of Center of Industry, Trade, and Investment Indef GTI Andry Satrio Nugroho mencatat formula HPM nikel yang turut memerhitungkan mineral ikutan membuat harga bijih—terutama limonit atau kadar rendah — naik bahkan hingga dua kali lipat.


Andry menilai kondisi tersebut sangat menekan penambang kecil–menengah, sebab kesulitan dalam menjual bijihnya ke smelter.

Bahkan, dia menemukan sejumlah penambang yang terpaksa menjual bijih dibawah HPM dan tetap membayar royalti sesuai HPM yang berlaku.

Smelter nikel./Bloomberg- Cole Burston