Logo Bloomberg Technoz

Produksi Nikel MHP Indonesia Turun, imbas Lonjakan Harga Sulfur

Azura Yumna Ramadani Purnama
07 July 2026 16:50

Produk turunan nikel, mixed hydroxide precipitate (MHP), produksi Harita Nickel./Bloomberg-Dimas Ardian
Produk turunan nikel, mixed hydroxide precipitate (MHP), produksi Harita Nickel./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Produksi bahan baku baterai mixed hydroxide precipitate (MHP) dari smelter nikel berbasis hidrometalurgi atau high pressure acid leach (HPAL) Indonesia tercatat turun menjadi 29.900 metrik ton (mt) nikel pada Juni 2026, dari besaran Januari 2026 sebesar 42.000 mt nikel.

Shanghai Metals Market (SMM) dalam risetnya melaporkan harga acuan sulfur yang tiba di pelabuhan Indonesia pada 10 Juni mencapai US$1.250—US$1.300 per mt dan turun ke level US$1.100—US$1.200 per mt pada 25 Juni 2026.

SMM mencatat harga sulfur telah naik lebih dari 126% sepanjang semester I-2026, di mana harga sulfur pada awal tahun ini berada di sekitar US$563 per mt.


Sulfur digunakan sebagai bahan baku dalam produksi produk antara nikel seperti MHP, melalui proses pelindian asam bertekanan tinggi. Memproduksi 1 ton MHP membutuhkan sekitar 10—12 ton sulfur.

“Pada Juni 2026, produksi MHP Indonesia sekitar 29.900 mt nikel, turun signifikan dibandingkan dengan puncaknya pada Januari sebanyak 42.000 mt, mencerminkan dampak berlanjut dari tingginya harga sulfur terhadap penekanan produksi,” tulis SMM dalam riset terbarunya, Selasa (7/7/2026).

Benchmark harga sulfur./dok. BMI