Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Tersengat Harga Minyak dan Risiko Inflasi

Tim Riset Bloomberg Technoz
02 September 2026 16:16

Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan Rabu (2/9/2026) dengan pelemahan 0,19% ke Rp17.760/US$, terdorong kembali meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap harga minyak yang menanjak. 

Tak cuma rupiah, kenaikan harga minyak juga membebani sebagian besar mata uang Asia hari ini. Dolar Taiwan tergerus paling dalam 0,31%, disusul peso Filipina 0,27%, dan rupiah juga ringgit Malaysia. Sementara, yuan offshore, dolar Hong Kong, yuan China melemah lebih terbatas. 

Sebaliknya, won Korea Selatan dan yen Jepang hari ini menguat cukup signifikan. Penguatan won Korea ssalah satunya ditopang oleh aksi buyback saham oleh sebagian perusahaan di tengah aksi jual oleh investor asing. 

Pergerakan harga rupiah dan mata uang Asia pada Rabu (2/9/2026). (Bloomberg)

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipicu oleh aksi jual investor di pasar Surat Utang Negara (SUN) yang semakin masif menjelang penutupan perdagangan sore ini. 

Data Bloomberg menunjukkan, yield tenor pendek hingga menengah melonjak tajam terdorong oleh aksi investor yang sepertinya tengah melakukan repricing terhadap risiko jangka pendek, seperti suku bunga, inflasi, dan likuiditas jangka pendek.