Nasib Rupiah dan Obligasi Kala Inflasi 'Membandel'
Tim Riset Bloomberg Technoz
01 September 2026 13:32

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah melemah secara terbatas 0,03% ke Rp17.725/US$, menyusul data inflasi Agustus yang tercatat 3,19% secara tahunan (year-on-year/yoy). Inflasi tersebut meningkat dari 2,88% pada Juli, dan lebih tinggi dari konsensus yang sebesar 3,11% dan proyeksi Bloomberg Economics 3,15%.
Respons rupiah yang hanya melemah terbatas mengindikasikan inflasi Agustus kemungkinan belum akan membuat Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan. Mata uang Ibu Pertiwi masih relatif terkendali dan berada di rentang Rp17.700-17.725/US$.
Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson mengatakan, selama inflasi masih berada dalam koridor target dan pemerintah tetap memberikan bantalan melalui subsidi, maka tekanan harga kemungkinan belum menjadi faktor utama yang mendorong pengetatan moneter.
Akan tetapi, ia menambahkan ruang tersebut dapat menyempit jika pelemahan rupiah berlanjut disertai kombinasi harga energi yang lebih tinggi dan gangguan pasokan akibat El Nino. Jika terjadi, maka kombinasi tersebut berpotensi membuat inflasi terus naik hingga menembus batas atas target Bank Indonesia (BI).
"Stabilitas rupiah akan menjadi variabel kunci yang menentukan apakah kenaikan inflasi pada akhirnya memaksa BI mengubah arah kebijakan moneternya," kata Henderson, seperti dikutip dalam catatannya.

































