Logo Bloomberg Technoz

Prediksi Rupiah dan BI Rate September

Tim Riset Bloomberg Technoz
02 September 2026 13:59

Mata uang rupiah dengan latar dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Mata uang rupiah dengan latar dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Risiko eksternal diperkirakan masih menjadi penekan utama rupiah dalam jangka pendek. Kenaikan harga minyak Brent ke atas US$90/barel menjadi salah satu pemicu. 

Konsensus yang dihimpun Bloomberg per Rabu (2/9/2026) menghasilkan median estimasi Rp17.779/US$ pada kuartal ketiga, dengan rata-rata proyeksi Rp17.816/US$. Angka ini memang lebih kuat dari estimasi sebelumnya pada akhir Agustus lalu di Rp17.850/US$. 

Namun, tekanan harga minyak Brent yang kembali naik 1,12% ke US$95,68/barel akibat memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mengubah sebagian pandangan analis terhadap arah rupiah, setidaknya hingga bulan terakhir kuartal ini. 


Melansir data Bloomberg, ANZ baru mengubah proyeksinya menjadi lebih pesimistis yang memperkirakan rupiah bergerak di Rp18.150/US$ pada kuartal III-2026, dan menuju Rp18.250/US$ pada kuartal IV-2026. 

Begitu juga dengan Mizuho Bank memperkirakan rupiah bergerak di Rp18.200/US$ pada kuartal III dan Rp18.000/US$ pada kuartal IV. Namun, OCBC mengubah pandangannya lebih optimistis dengan memperkirakan rupiah bergerak di Rp18.200/US$ pada kuartal III, dan Rp18.000/US$ pada kuartal IV.