Logo Bloomberg Technoz

Sempat Terpeleset, Rupiah Berhasil Bangkit

Tim Riset Bloomberg Technoz
01 September 2026 09:25

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan awal September dengan pelemahan 0,01% ke Rp17.721/US$, kala harga minyak kembali menanjak dan ekspektasi pasar terhadap rilisnya capaian data ekonomi yang belum menggembirakan. 

Harga minyak Brent kembali naik 0,66% ke US$91,09/barel, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz. Sementara, indeks dolar AS juga kembali menguat ke 99,45, dengan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed. 

Sikap hawkish The Fed telah mengerek kenaikan yield di pasar US Treasury tenor panjang. US Treasury tenor panjang 10 hingga 30 tahun naik pada perdagangan kemarin waktu setempat, menyusul komentar hawkish Gubernur The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole. Pagi ini, yield US Treasury tenor 10 tahun naik 5,8 bps menjadi 4,77% dan tenor 20 tahun naik 6,7 bps ke 5,27%. 


Dari pasar Asia, kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan US Treasury menyebabkan sebagian besar mata uang melemah.

Ringgit Malaysia memimpin pelemahan 0,26%. disusul won Korea Selatan 0,15%, peso Filipina, baht Thailand, dolar Singapura, yuan offshore, yen Jepang, dolar Hong Kong, hingga yuan China. Sebaliknya, hanya dolar Taiwan yang mampu bertahan dengan penguatan 0,21%, tertopang oleh arus modal masuk ke pasar saham domestiknya. 

Pergerakan rupiah dan mata uang Asia. (Bloomberg)