Logo Bloomberg Technoz

Awali September, Rupiah Finis di Rp17.726/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
01 September 2026 15:17

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan pasar spot Selasa (1/9/2026) dengan pelemahan terbatas 0,03% ke Rp17.726/US$, di tengah inflasi yang menghangat.

Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) sore ini, mata uang Nusantara terdepresiasi 0,12% dan bergerak di Rp17.785/US$. Meski begitu, pergerakan rupiah baik di pasar spot maupun offshore masih berada di bawah Rp17.800/US$. 

Agaknya, pelaku pasar merespons kenaikan inflasi kali ini dengan netral, meski tetap berhati-hati terhadap laju inflasi pada bulan berikutnya. Hal ini tergambar dari pergerakan yield obligasi di pasar surat utang yang mengalami aksi jual pada hampir semua tenor. 


Meski rupiah relatif stabil, pelaku pasar justru terlihat banyak melepas kepemilikannya di pasar surat utang pada perdagangan hari ini. Yield tenor 1 tahun naik 3,6 basis poin (bps) ke 6,81%, sementara tenor 4 tahun naik 4,7 bps ke 6,89%, dan tenor 10 tahun naik 3,5 bps ke 7,05%. 

Pergerakan yield di pasar SUN pada Selasa (1/9/2026). (Bloomberg)

Memang inflasi Agustus masih berada dalam sasaran Bank Indonesia (BI), tetapi investor tampaknya tak mau mengabaikan adanya kemungkinan bahwa tekanan harga akan semakin persisten, terlebih pergerakan harga minyak mentah kini kembali terkerek naik ke US$91,3/barel.