Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Kembali Melemah, Tertekan Aksi Jual di Pasar Surat Utang

Redaksi
22 April 2026 11:27

Pergerakan rupiah di tengah penantian suku bunga acuan BI Rate (Diolah)
Pergerakan rupiah di tengah penantian suku bunga acuan BI Rate (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah melanjutkan tren pelemahannya pada sesi perdagangan siang ini dan terdepresiasi 0,21% ke posisi Rp17.180/US$. 

Di tengah kabar redanya konflik AS dan Iran, yang masih simpang siur, indeks dolar AS tercatat stabil di level 98,396, sementara harga minyak mentah dunia ikut turun 3% ke US$89,39 per barel (WTI), dan 0,1% menjadi US$98,38 per barel (Brent). 

Tapi kondisi ini tak lantas membuat volatilitas rupiah menjadi lebih jinak. Rupiah masih melanjutkan tren pelemahannya sejak perang pecah di Timur Tengah pada 28 Februari lalu.


Pelemahan rupiah siang ini terjadi di tengah aksi jual surat utang, khususnya di tenor pendek dan menengah. Imbal hasil tenor 1 tahn tercatat naik 1,4 basis poin (bps) ke 5,66%, diikuti tenor 2 tahun naik 6,7 bps ke 5,97%, dan tenor 3 tahun naik 5,3 bps ke 6,1%. 

Kenaikan ini berlanjut hingga tenor menengah 5 hingga 9 tahun yang mengalami kenaikan imbal hasil menjadi 6,3% hingga 6,6%. Imbal hasil tenor acuan 10 tahun juga tercatat naik 1,6 bps ke 6,61%.