Cadangan Devisa Sudah Banyak Terkuras, Rupiah Masih Saja Lemas
Redaksi
08 April 2026 16:18

Bloomberg Technoz, Jakarta - Cadangan devisa Indonesia tercatat menurun pada akhir Maret 2026. Penurunan ini disebabkan oleh intervensi Bank Indonesia (BI) dalam upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.
Melansir laman BI pada Rabu (8/4/2026), cadangan devisa Indonesia menyusut US$3,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$148,2 miliar dari US$151,9 miliar pada Februari 2026.
"Perkembangan ini dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah dan penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah. Kebijakan stabilisasi tersebut sebagai respons Bank Indonesia terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat," tulis laporan BI.
Turunnya cadangan devisa bulan Maret menandai konsistensi penurunan cadangan devisa sejak Januari 2026. Untuk diketahui, pada Desember 2025, devisa RI sempat tercatat tumbuh mencapai posisi tertinggi sejak tiga bulan terakhir.
Namun, memasuki Januari 2026, cadangan devisa mencatatkan penurunan selama tiga bulan beruntun lantaran tekanan eksternal yang membuat rupiah semakin volatil.
Pada Desember 2025, cadangan devisa tercatat US$156,47 miliar, lalu turun pada Januari US$1,89 miliar menjadi US$154,58 miliar.
Kemudian pada Februari cadangan devisa juga tergerus US$2,68 miliar menjadi US$151,9 miliar. Pada Maret cadangan devisa berlanjut menyusut US$3,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$148,2 miliar.
Penurunan cadangan devisa pada Maret terlihat semakin dalam dan semakin terakselerasi karena tekanan eksternal yang cenderung persisten. Pada Maret, setelah perang pecah di Timur Tengah rupiah terus bergejolak hingga Rp16.995/US$ hampir menembus batas psikologisnya di level Rp17.000/US$.
Intervensi Rupiah
Penurunan cadangan devisa yang terjadi selama tiga bulan beruntun sejalan dengan adanya operasi di pasar terbuka yang dilakukan BI. Pada Februari, intervensi BI di pasar tercatat Rp636 triliun, naik 5,36% dari intervensi Januari Rp603,66 triliun.
Kenaikan yang bisa dibilang cukup signifikan ini menandakan BI sibuk menyerap likuiditas rupiah sekaligus mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah yang kala itu tertekan oleh ancaman penurunan rating dari lembaga pemeringkat kredit.
Pada periode Februari, pergerakan rupiah bisa dibilang cukup liar. Pada awal bulan, rupiah sempat berada di level Rp16.760/US$ lalu melemah menjadi Rp16.866/US$.
Meski sempat diredam beberapa hari di pekan pertama, rupiah kembali melemah ke Rp16.884/US$ pada pertengahan bulan. Dengan gempuran intervensi di pasar, akhirnya volatilitas rupiah berhasil diredam dan kembali ke level Rp16.770/US$ pada penutupan bulan Februari.
Namun pada Maret, nilai intervensi BI melonjak sebesar 19,17% menjadi Rp757,89 triliun. Hal ini terjadi lantaran adanya ketidakstabilan geopolitik yang kembali menekan rupiah hingga ke level terendahnya sepanjang sejarah.
Pada Maret, rupiah tercatat melemah hanya 0,79% jika dibandingkan mata uang lainnya di kawasan yang tergerus cukup tajam seperti won Korea Selatan yang bahkan menjadi mata uang terlemah di kawasan sepanjang Maret 2026 dengan penyusutan 5,22%.
Meski pelemahan rupiah cenderung terbatas dibanding mata uang lain di kawasan, secara year-to-date rupiah telah melemah sebanyak 1,88%
Kondisi rupiah yang cenderung rapuh membuat cadangan devisa RI semakin tergerus.
Kinerja Ekspor dan Impor
Dari sisi basis devisa RI, Indonesia sebenarnya telah mencatatkan surplus perdagangan yang sedikit lebih tinggi pada Februari sebesar US$1,28 miliar dari capaian Januari US$0,96 miliar saja. Akan tetapi angka ini masih jauh di bawah konsensus pasar sebesar US$1,58 miliar.
Rendahnya surplus perdagangan Indonesia selama dua bulan peratama di tahun ini lantaran kinerja ekspor yang lemah dan adanya lonjakan impor.
Pertumbuhan ekspor tercatat melambat 1,01% secara tahunan, disebabkan oleh angka ekspor batu bara yang terkontraksi 8,31% secara bulanan dan 15,65% secara tahunan menjadi US$2,25 miliar.
Sementara itu, meski pertumbuhan impor melambat menjadi 10,85% secara tahunan, tapi nilai belanja masih cenderung tinggi dengan kebijakan ekspansif yang dianggap sebagai penopang pertumbuhan.
Beberapa program prioritas tercatat melakukan importasi barang modal dalam jumlah besar senilai US$4,61 miliar. Begitu juga dengan impor barang konsumsi masih tumbuh 19,84% secara tahunan menjadi US$1,76 miliar.
Dengan kinerja ekspor yang melandai dan impor yang masih ekspansif, kebutuhan akan permintaan dolar AS otomatis akan terus mendominasi.
Jika tren ini berlanjut, tekanan terhadap rupiah tak terhindarkan. Mega Capital Sekuritas memproyeksikan tekanan depresiasi rupiah bisa menuju ke level Rp18.100/US$ hingga Rp18.500/US$.
"Skenario ini cukup mungkin terjadi, mengingat rupiah pernah terdepresiasi 8,73% selama perang Ukraina pada 2022. Oleh karena itu kami menetapkan Rp18.300/US$ sebagai skenario terburuk nilai tukar rupiah tahun ini," kata Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas dalam catatannya.
Meski begitu, Lionel menambahkan skenario tersebut dapat dihindari jika pemerintah mampu melakukan perbaikan struktur ekspor-impor. Caranya, dengan mendorong pertumbuhan ekspor dan menahan laju impor, sehingga dapat menghasilkan surplus perdagangan setidaknya senilai US$9 miliar per kuartal selama tiga kuartal terakhir.
"Dengan asumsi ini, pelebaran defisit transaksi berjalan dapat dibatasi hingga sekitar 0,9% terhadap PDB, dan depresiasi rupiah dapat dikelola di kisaran Rp17.100/US$ hingga Rp17.500/US$," pungkas Lionel.
































