Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Dibuka Melemah, Pasar Cermati Rilis Data Fiskal

Tim Riset Bloomberg Technoz
05 June 2026 09:23

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan hari ini (5/6/2026) dengan pelemahan 0,23%, ke level Rp18.074/US$, melanjutkan pelemahan yang terjadi kemarin. 

Sepanjang pekan ini, rupiah telah melemah 1,03% dan menjadi mata uang terlemah ketiga  setelah won Korea Selatan dan ringgit Malaysia. Namun, jika ditarik ke belakang, pelemahan rupiah paling tajam terjadi pada kuartal kedua, yaitu sebesar 5,79%. 

Sehingga secara year-to-date alias sejak awal tahun, rupiah telah tergerus sebanyak 7,44%, dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. 

Pergerakan mata uang Asia (Bloomberg)

Pegerakan rupiah yang terus memburuk sejak awal tahun dan diperparah pada kuartal kedua tahun ini sejatinya menjadi indikator paling jelas dari kegelisahan pasar. Setidaknya, sejak pemerintahan ini berjalan, rupiah telah melemah sebesar 14%. 

Ketidakpastian dan inkonsistensi kebijakan menjadi hal yang terus diperhatikan oleh pelaku pasar. Di tengah kondisi ini, para pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 45% bahwa rupiah akan mencapai Rp19.000/US$ pada Desember mendatang, dan probabilitas 27% untuk melemah hingga Rp20.000/US$ dalam satu tahun ke depan, seperti dikutip Bloomberg News.