Logo Bloomberg Technoz

Timur Tengah Kembali Panas, Rupiah & Mata Uang Asia Lemas

Tim Riset Bloomberg Technoz
06 April 2026 09:19

Karyawan memberikan uang rupiah dan dolar AS kepada nasabah di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan memberikan uang rupiah dan dolar AS kepada nasabah di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada awal perdagangan spot hari ini, Senin (6/4/2026), menyusul ketegangan geopolitik di Timur Tengah berlanjut hingga bulan kedua. 

Rupiah spot dibuka stagnan di posisi Rp16.995/US$, lalu bergerak melemah 0,02% ke Rp17.003/US$ pada 09:08 WIB. Mahalnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih dipicu oleh melonjaknya harga minyak serta indeks dolar AS terhadap mata uang utama yang bertengger di level 100. 

Harga minyak mentah jenis Brent masih bertahan di level US$110 per barel pada pagi ini pukul 08:45 WIB. Begitu juga dengan WTI dihargai US$111,91 per barel. Perang memicu guncangan pasokan minyak dan menyebabkan krisis energi secara global. 


Selain itu, kenaikan harga minyak membuat harga produk turunannya ikut melonjak. Hal ini memicu tekanan inflasi, merusak pertumbuhan ekonomi, dan menambah beban bagi bisnis dan konsumen. 

Di sisi lain, pelaku pasar juga masih kebingungan dan khawatir dengan pertanyaan Presiden AS Donald Trump yang kerap berubah-ubah terkait perang ini. Kadang Trump menyatakan bahwa perang akan segera berakhir, tetapi tidak lama kemudian dia mengancam akan meningkatkan serangan, bahkan ke infrastruktur sipil.