Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Masih Dibanderol Rp17.000-an/US$ di Luar Negeri

Tim Riset Bloomberg Technoz
06 April 2026 08:07

Warga menukarkan uang dolar AS ke rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Warga menukarkan uang dolar AS ke rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) volatil dan bertahan di level tinggi Rp17.000-an/US$ sejak Kamis, (2/4/2026). Meski sempat ditutup menguat di level Rp16.990-an/US$, tetapi pada Jumat (3/4/2026) rupiah offshore melemah ke level Rp17.000/US$ saat pasar Indonesia libur perayaan Jumat Agung dan Paskah. 

Hari ini, Senin (6/4/2026), rupiah offshore masih dibanderol Rp17.012/US$ pada pembukaan perdagangan. Tak berselang lama, rupiah kembali tergelincir 0,07% ke posisi Rp17.014/US$. 

Ketidakpastian geopolitik masih terus membayangi pergerakan mata uang di pasar negara berkembang. Ringgit Malaysia tergelincir 0,07%, disusul yen Jepang 0,06%, dan yuan offshore 0,03%. Sebaliknya dolar Hong Kong stagnan dengan bias penguatan terbatas 0,02%.  


Kembali volatilnya mata uang di kawasan Asia dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah. Harga minyak jenis Brent kembali melonjak pada hari ini sebesar 1,52% dan berada di level US$110,69 per barel. 

Gejolak harga minyak masih terjadi di tengah kabar rusaknya beberapa aset energi di Timur Tengah yang akan berdampak panjang terhadap pasokan minyak, bahkan setelah perang berakhir. Meski begitu, mereka tetap akan mengumumkan rencana kenaikan produksi untuk bulan depan, langkah ini lebih bersifat simbolis.