Logo Bloomberg Technoz

Awal Pekan Terjadi Kenaikan Harga Minyak, Brent US$110-WTI US$113

News
06 April 2026 07:35

Kilang minyak. (Bloomberg)
Kilang minyak. (Bloomberg)

Bloomberg, Harga minyak naik setelah Presiden Donald Trump memberikan ultimatum baru kepada Teheran dan mengancam akan menyerang pembangkit listrik serta infrastruktur sipil lainnya di Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali.

Harga minyak Brent naik di atas US$110 per barel, sementara West Texas Intermediate mendekati US$113. Dalam serangkaian postingan media sosial yang keras, presiden AS itu mengancam akan membawa “neraka” ke negara tersebut. Teheran menolak tuntutan terbaru tersebut, dan jalur perairan utama itu tetap ditutup bagi semua kapal kecuali sejumlah kecil kapal.

Titik-titik serangan Amerika dan Iran di kawasan Asia Barat, konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan.

Pasar minyak mentah dilanda gejolak akibat perang, yang memicu guncangan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan berubah menjadi krisis energi global. Harga minyak dan produk turunannya melonjak, memicu tekanan inflasi, merusak pertumbuhan ekonomi, dan menambah beban bagi bisnis dan konsumen.


OPEC+ memperingatkan setelah pertemuan akhir pekan bahwa kerusakan aset energi akibat perang akan berdampak berkepanjangan pada pasokan minyak bahkan setelah permusuhan berakhir. Anggota kelompok produsen menyetujui peningkatan kuota produksi — sebuah sinyal niat, mengingat aliran dari Teluk Persia tetap terhambat.

Seiring perang yang telah memasuki pekan keenam, muncul pula tanda-tanda kekhawatiran yang semakin mendalam terkait pasokan dalam jangka pendek. Selisih harga Brent untuk kontrak terdekat — selisih antara dua kontrak terdekatnya — melonjak hingga lebih dari US$10 per barel dalam kondisi backwardation, sebuah pola yang mengindikasikan tren bullish.