Logo Bloomberg Technoz

Pasar Soroti Risiko Domestik, Posisi Rupiah Rasanya Masih Rawan

Tim Riset Bloomberg Technoz
22 May 2026 08:00

Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) stagnan pada perdagangan pagi ini, Kamis (22/4/2026) di Rp17.684/US$. Tak lama berselang, rupiah offshore sedikit melemah menjadi Rp17.686/US$. 

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) terhadap enam mata uang utama berada di 99,25, sementara minyak Brent sedikit turun tetapi masih bertahan tinggi di level US$102,58 per barel. 

Pergerakan mata uang kawasan cukup beragam. Optimisme akan berakhirnya perang sedikit memberi ruang bagi sebagian mata uang kawasan untuk menguat.


Dari pasar yang sudah buka pada 07:00 WIB, yuan offshore, won Korea Selatan, dan yuan China tercatat menguat. Sebaliknya yen Jepang, dolar Singapura dan Hong Kong kembali melemah secara terbatas.

Mata uang kawasan sebagian menguat pada Jumat (22/5/2026). (Bloomberg)

Pergerakan beragam dari mata uang kawasan terjadi lantaran guncangan harga minyak dan pangan tidak merata terhadap mata uang Asia. Inflasi yang terjadi akibat kenaikan harga minyak dunia sejak awal Maret turut mengganggu distribusi pupuk, hingga meningkatkan biaya produksi pertanian.