Sejauh ini, serangan AS telah menyebabkan rusaknya beberapa aset energi di Timur Tengah yang kemudian berdampak panjang terhadap pasokan minyak.
Menurut OPEC+, memperbaiki kilang dan infrastruktur energi yang rusak bukan hal cepat atau murah. Selain itu, gangguan seperti serangan atau terganggunya jalur pengiriman minyak semakin membuat pasokan tidak stabil dan harga makin mudah bergejolak.
Negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi dan Rusia sepakat menambah target produksi sekitar 206 barel per hari pada Mei mendatang. Namun, karena ekspor minyak dari kawasan Teluk masih terganggu akibat perang, tambahan produksi ini kemungkinan belum benar-benar bisa terealisasi.
Para analis menilai, masalah utamanya bukan pada kuota produksi atau kebijakan OPEC+, melainkan terganggunya Selat Hormuz. Selama jalur ini belum pulih dan masih tertutup untuk akses distribusi minyak, pasokan minyak global akan tetap terganggu.
Mata Uang Kawasan
Dari kawasan, pergerakan mata uang cukup beragam meski dengan penguatan terbatas. Dari zona merah ada peso Filipina yang melemah 0,58%, disusul ringgit Malaysia 0,1%, serta rupiah 0,02%.
Sebaliknya won Korea Selatan menguat 0,18%, di tengah ekspektasi suku bunga acuan yang akan rilis pada pekan ini. Begitu juga yen Jepang menguat terbatas sebesar 0,07%, dolar Singapura 0,06% dan yuan offshore 0,03%.
Pasar masih mencermati kawasan Asia dan memasang mode wait and see. Investor sepertinya masih belum berani mengambil posisi agresif, sambil menunggu kejelasan arah kebijakan moneter serta kondisi geopolitik yang masih dinamis.
Namun, dibalik pergerakan beragam dan ada beberapa mata uang Asia yang bergerak di zona hijau belum mencerminkan redanya tekanan. Penguatan terbatas pada sejumlah mata uang Asia lebih disebabkan oleh faktor teknikal dan adanya intervensi otoritas, bukan lantaran fundamental yang membaik.
Selama harga minyak bertahan tinggi, pergerakan mata uang Asia masih akan dibayangi tekanan pelemahan.
(dsp/aji)






























