Keluh Pedagang Bawang di Jakarta Kala Harga Naik Jelang Iduladha
Andrean Kristianto
22 May 2026 20:10
Bloomberg Technoz, Jakarta - Kenaikan harga bawang merah mulai dirasakan para pedagang dalam beberapa hari terakhir. Hal tersebut diungkapkan oleh pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur,
Ferdi Sinuraya, salah satu pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, mengatakan harga bawang merah mulai naik sejak lima hari lalu. Menurutnya, keterlambatan dan minimnya kiriman menjadi penyebab utama kenaikan harga tersebut.
Baca Juga
“Naiknya udah lima hari inilah, kemarin karena tiga hari belakangan ini kosong, enggak ada kirimannya, ada tapi enggak mencukupi,” kata Ferdi kepada Bloomberg Technoz, Jumat (22/6).
Ferdi menjelaskan bawang merah kualitas super kini dijual seharga Rp58.000 per kilogram. Sebelumnya, komoditas tersebut masih dipasarkan di kisaran Rp54.000 per kilogram.
“Untuk harga kupasan dari Rp45.000 ke Rp55.000, kalau yang sedang dari harga Rp43.000 ke Rp48.000, kalau yang supernya dari harga Rp54.000 ke Rp58.000,” ungkap Ferdi.
Keluhan serupa disampaikan pedagang lain bernama Nuraini. Ia mengaku kenaikan harga membuat penjualan bawang merah menjadi lebih sulit dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Harga sekarang kita jual Rp60.000 per kilo untuk yang pilihan tadinya Rp55.000, sudah tiga hari ini, mangkanya kita bisa belanja tapi enggak bisa jualnya,” ujar Nuraini.
Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia (RI) menyatakan terus berupaya menjaga ketersediaan serta kelancaran pasokan bawang merah jelang Hari Raya Idul Adha 2026/1447 Hijriah.
Pemerintah mengklaim produksi komoditas tersebut secara nasional masih terkendali meski dihadapkan tantangan cuaca ekstrem, menurut pemantauan di beberapa sentra produksi utama seperti Solok, Brebes, Enrekang, Bima, Nganjuk, Bandung, Kendal, Garut, sampai Probolinggo.
Direktur Jenderal Hortikultura Kementan RI Muhammad Taufiq Ratule pun mengeklaim produksi bawang merah nasional hingga kini masih mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Produksinya rerata mencapai kurang lebih 2 juta ton konde basah atau setara 1,3 juta ton rogol kering panen per tahun, sementara kebutuhan konsumsi nasional berada di kisaran 1,26 juta ton setiap tahun.
(dre/ros)





























