Minyak Masih Mahal, Mata Uang Asia Kehilangan Tenaga
Redaksi
22 May 2026 07:30

Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga minyak mentah yang bertahan tinggi cukup lama di level US$105 per barel semakin membebani pasar keuangan di negara berkembang. Tekanan yang terjadi pada harga minyak diproyeksikan akan merembet pada capaian inflasi global, sehingga yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali naik.
Kenaikan harga minyak mentah sebesar 40% sejak perang AS-Iran pecah pada awal Maret telah menyebabkan negara di kawasan terpukul. Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi, memperburuk tekanan fiskal, serta mengurangi daya tarik aset di negara berkembang.
Baik Indonesia, India, dan Filipina yang sepenuhnya masih bergantung pada impor minyak dan arus modal asing untuk membayar defisit transaksi berjalan, tak bisa berkelit dari sentimen negatif yang datang akibat gejolak harga minyak ini.
Rupee India, rupiah, peso Filipina dan won Korea Selatan menjadi mata uang dengan performa terburuk sejak awal tahun. Sebaliknya, yuan China, dan ringgit Malaysia menjadi mata uang yang cukup kuat terhadap goncangan eksternal.
Sejumlah lembaga global mulai merevisi proyeksi mata uang Asia ke level yang lebih lemah. Misalnya, India diproyeksikan melemah hingga 100/US$. DBS Group bahkan mengubah proyeksi rupee menjadi hingga 100/US$ dari sebelumnya 95/US$.




























