Erwin mengatakan, pelemahan nilai rupiah hari ini adalah akibat kenaikan lagi pamor dolar AS setelah hasil pertemuan The Fed serta pernyataan bernada hawkish oleh Gubernur The Fed Jerome Powell tentang prospek kebijakan suku bunga AS.
Bank Indonesia menilai, pelemahan rupiah saat ini masih sejalan dengan mata uang sejenis di emerging market.
"Rupiah bergerak sejalan dengan mata uang regional lain yan melemah terutama karena penguatan dolar AS secara luas menyusul keputusan The Fed yang relatif agresif untuk mempertahankan Fed fund rate serta data terbaru ekonomi AS yang kuat di tengah tarif Trump. Hal itu berpotensi mempengaruhi aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang," jelas Erwin.
Melansir data Bloomberg pada pukul 11:02 WIB, rupiah di pasar offshore makin ambles ke level Rp16.481/US$. Level terlemah rupiah NDF offshore hari ini terjadi pagi tadi di Rp16.488/US$.
Sedangkan di pasar spot, rupiah juga terjatuh lemah di level Rp16.459/US$, mencerminkan pelemahan 0,40%.
Kinerja itu membawa rupiah sebagai mata uang terburuk keempat di Asia sejauh ini setelah peso yang ambles 1,33%, juga dolar Taiwan dan baht yang masing-masing tergerus 0,77% dan 0,72%.
Di pasar spot, rupiah sempat menjebol level terlemah pagi ini di posisi Rp16.460/US$ pada pukul 09:47 WIB, mencerminkan tertembusnya dua level support.
Level support berikutnya ada di Rp16.480/US$. Bila tekanan tak terhentikan, rupiah potensial menembus level Rp16.500/US$ sebagai support terkuat.
Tekanan yang dialami oleh rupiah terjadi ketika indeks dolar AS saat ini masih stabil di level 99,78. Relatif lebih rendah dibanding perdagangan kemarin ketika DXY melampaui 100 ketika The Fed menggelar konferensi pers.
Hasil rilis data pertumbuhan AS pada kuartal II-2025 menunjukkan, ekonomi terbesar itu mencatat laju PDB 3%, berbalik positif dari data semula yang negatif 0,5% dan jauh lebih tinggi dibanding ekspektasi pasar.
Hal itu dinilai menunjukkan resiliensi perekonomian AS di tengah tekanan tarif impor universal sebesar 10% dan sejumlah tarif sektoral. Di sisi lain, data inflasi inti PCE juga tercatat naik di atas ekspektasi, sebesar 2,5%.
Data-data tersebut telah membuat para pejabat The Fed dalam FOMC kemarin memilih menahan suku bunga acuan. Sementara prospek kebijakan bunga acuan The Fed pada September nanti akan bergantung pada rilis data inflasi serta tenaga kerja AS pada Juli dan Agustus.
"Bila unemployment rate AS berkisar di 4,2% dan inflasi core PCE bulanan ada di 0,3% month-on-month dalam dua bulan berturut-turut, The Fed berpeluang menahan suku bunga sampai kuartal IV-2025 dengan skenario masih ada satu kali penurnuan bunga acuan sebesar 50 bps," jelas Lionel Priyadi, Fixed Income and Market Strategist Mega Capital Sekuritas.
Di pasar jelang tengah hari ini, tekanan jual membesar menaikkan tingkat imbal hasil surat utang RI.
Mengacu data OTC Bloomberg, yield 2Y naik 3,2 bps, brsama tenor 5Y yang juga naik 3,3 bps. Sedangkan tenor benchmark yakni 10Y naik 2,6 bps yield-nya. Begitu juga tenor 15Y, yield-nya tercatat naik 2,7 bps.
Tekanan juga melanda pasar saham, yang sejauh ini sudah kehilangan 0,25% nilainya di mana IHSG tertekan di 7.530, pada pukul 11:09 WIB.
Tekanan indeks saham terutama karena kemerosotan harga saham-saham tulang punggung indeks dari sektor perbankan. BBCA, BBRI, BMRI juga BBNI semua membebani indeks.
(rui)




























