Logo Bloomberg Technoz

Ekonom Beber 5 Dampak Jika Rupiah Tetap Bertahan di Rp18.000/US$

Redaksi
05 June 2026 12:15

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih bertengger di angka psikologis Rp18.000 per US$. Hari ini rupiah dibuka melemah 0,23%, ke level Rp18.074/US$, melanjutkan pelemahan yang terjadi kemarin. 

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede mengungkapkan bahwa jika rupiah menembus dan bertahan di atas Rp18.000, dampaknya ke perekonomian akan cukup luas.

“Pertama, biaya impor energi, pangan tertentu, obat, alat kesehatan, bahan baku industri, dan komponen manufaktur akan meningkat,” kata Josua kepada Bloomberg Technoz, Kamis (4/6/2026).


Kedua, Josua mengingatkan mengenai beban APBN yang berpotensi naik karena subsidi dan kompensasi energi menjadi lebih mahal, terutama ketika harga minyak masih tinggi.

Ketiga, perusahaan yang memiliki utang valas atau kebutuhan impor besar akan menghadapi kenaikan biaya dan tekanan laba.