Sepanjang tahun ini, rupiah masih menjadi mata uang Asia dengan kinerja terburuk dengan pelemahan 1,3% year-to-date, ketika mayoritas mata uang Asia mencatat penguatan yang signifikan terhadap dolar AS.
Indeks dolar AS kemarin ditutup melemah cukup dalam hingga 0,64% ke level 97,85 yang memberikan ruang penguatan pada mayoritas mata uang emerging market pada perdagangan Senin.
Sementara di Asia, pagi ini terlihat pergerakan valuta bervariasi. Baht dan ringgit menguat. Namun, yen, won serta dolar Singapura dan yuan offshore melemah tipis.
Perkembangan di Jepang masih akan jadi perhatian. Perdana Menteri Shigeru Ishiba mengatakan ia akan tetap menjadi pemimpin meski koalisi yang berkuasa kehilangan posisi mayoritas dalam pemilihan majelis tinggi. Indeks Nikkei dibuka menguat pagi ini, hingga lebih dari 1% ketika yen melemah.
Pasar Asia kemarin terimbas, termasuk tekanan pada valuta, akibat kekalahan bersejarah Partai Demokrat Liberal yang berkuasa memicu ketidakpastian kebijakan di negeri itu ke depan.
Adapun dari lanskap global, perhatian pasar masih akan terarah pada perkembangan negosiasi tarif.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, Presiden Donald Trump mungkin akan mengeluarkan lebih banyak surat tarif sepihak sebelum 1 Agustus. Kesepakatan perdagangan juga mungkin akan tercapai sebelum batas waktu, katanya.
Dari dalam negeri, selain lelang SBSN yang dilangsungkan di tengah tren bullish yang berlangsung di pasar surat utang negara sejak pekan lalu, pasar juga akan mencermati data perkembangan uang beredar yang dirilis oleh Bank Indonesia hari ini.
Reli saham & surat utang
Ketika rupiah kemarin menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia, terimbas isu di Jepang juga faktor musiman peningkatan permintaan dolar AS, reli saham dan surat utang di pasar domestik berlanjut.
IHSG kemarin ditutup menguat lebih dari 1% mengawali pekan, bahkan ketika tekanan jual pemodal asing masih berlanjut sebesar Rp180,37 miliar.
Sementara mayoritas surat utang pemerintah bergerak turun imbal hasilnya, mencerminkan permintaan beli yang mengungkit harga obligasi.
Yield 5Y terpangkas 4,3 bps menyentuh 6,067%, lalu tenor 2Y terpangkas 2,4 bps menyentuh 5,799%, bersama tenor 10Y yang juga turun 1,4 bps ke level 6,512%, seperti dilansir dari Bloomberg hingga penutupan perdagangan Senin sore.
Animo yang terus berlanjut di pasar surat utang mungkin dilatarbelakangi switch dana dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang makin turun imbal hasilnya.
Berdasarkan data transaksi 14 – 17 Juli 2025, nonresiden tercatat menjual SRBI senilai Rp8,95 triliun. Sehingga sepanjang tahun ini, asing mencatat net sell sebesar Rp48,07 triliun di instrumen tenor pendek tersebut. Dalam lelang terakhir Jumat lalu, bunga SRBI makin turun di level 5,693%.
Analisis teknikal
Secara teknikal nilai rupiah memiliki potensi pelemahan mencermati berbagai sentimen hingga wait and see pasar. Pelemahan terdekat menuju level Rp16.350/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp16.400/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, rupiah berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp16.450/US$ sebagai support terkuat, sementara support laju sepekan rupiah ada di Rp16.480/US$.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati pada level di range Rp16.300/US$ dan selanjutnya Rp16.270/US$ di range MA-200.
Adapun rupiah sejatinya masih ada potensi penguatan optimis lanjutan seiring sentimen pasar ke resistance potensialnya ke level Rp16.200/US$ meski saat ini masih terbatas peluangnya.
(rui)






























