Lantas bagaimana arah rupiah pada November dan sisa kuartal ini?
Sejatinya rupiah masih berpotensi volatil, namun potensi penguatan masih terbuka ke arah Rp18.000-18.100/US$, jika tekanan dolar AS mereda, harga minyak turun, dan arus modal asing kembali stabil ke pasar domestik.
Memang, sebagian pelaku pasar mempertahankan pandangan hati-hati terhadap rupiah, salah satunya OCBC. Analis OCBC, Sim Moh Siong dan Christopher Won menilai ketidakpastian klasifikasi MSCI dan risiko The Fed memperketat kebijakan moneter serta adanya ketidakpastian arus modal asing masih membayangi rupiah. OCBC memperkirakan rupiah bergerak di level Rp18.100/US$ hingga akhir tahun.
Bahkan, MUFG memperkirakan lebih bearsih, dan rupiah berpotensi bergerak di atas Rp18.200/US$. Level Rp18.350.US$ menjadi target risiko yang patut diperhatikan jika tekanan arus modal semakin kuat. Begitu juga dengan Mizuho Bank yang memprediksi rupiah bisa berada di kisaran Rp18.300/US$, jelang tutup tahun ini.
Namun, tak sedikit juga yang optimis. Ebury memperkirakan rupiah bisa bergerak ke posisi Rp17.700/US$, sedangkan Westpac Banking memproyeksi rupiah bisa kembali ke level Rp17.600/US$. Sementara, Bank Permata memprediksi rupiah tetap berada di atas Rp18.100/US$.
Faktor Pendukung Rupiah
Rupiah mendapat angin segar dari surplus perdagangan yang tetap solid. Surplus perdagangan September tercatat US$3,36 miliar, melampaui konsensus Bloomberg, US$1,85 miliar. Surplus itu berpotensi memperkuat pasokan devisa.
Cadangan devisa masih relatif terjaga, dengan posisi sebesar US$146,3 miliar pada akhir September masih memberi bantalan bagi BI melakukan intervensi di pasar valas.
Penurunan dolar AS diikuti yield di pasar obligasi juga berpotensi memberi ruang pemulihan valuta asia.
Meski begitu, pemulihan rupiah pada November berpotensi tertahan oleh ketidakpastian MSCI, premi risiko Indonesia yang masih diganjar tinggi, juga ekspektasi suku bunga AS yang masih relatif ketat.
Jika pelemahan masih terjadi, Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan mengambil langkah pengetatan moneter dengan mengerek BI Rate ke 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini.
(dsp)






























