Logo Bloomberg Technoz

PEMBANGKIT LISTRIK

Alasan Smelter di RI Bakal Kesulitan Pindah dari Batu Bara ke EBT

Azura Yumna Ramadani Purnama
30 October 2026 15:30

Fasilitas smelter milik BHP Group di Port Kembla, Australia./Bloomberg-Brent Lewin
Fasilitas smelter milik BHP Group di Port Kembla, Australia./Bloomberg-Brent Lewin

Bloomberg Technoz, Jakarta – Pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai industri pemurnian dan pengolahan (smelter) mineral bakal tetap sulit menggunakan pembangkit energi baru terbarukan (EBT), meskipun nantinya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive dicoret sebagai penerima batu bara domestic market obligation (DMO).

Alasannya, harga listrik dari pembangkit EBT masih terbilang mahal jika dibandingkan dengan harga listrik yang dihasilkan PLTU captive yang digunakan industri smelter, kendati industri smelter tidak mendapatkan harga batu bara khusus DMO atau domestic price obligation (DPO).

Yayan menguraikan industri smelter memang menyerap harga batu bara sesuai harga pasar dengan perkiraan biaya sekitar US$28/megawatt hour(MWh) untuk kalori rendah dan US$39/MWh untuk batu bara kualitas tinggi.


Kendala Biaya

Kemudian, biaya pembangunan pembangkit PLTU captive diramal sekitar US$64/MWh atau lebih tinggi dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) baru sekitar US$46/MWh dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) baru sekitar US$49/MWh.

Suasana Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah, Minggu (9/7/2023). (Dimas Ardian/Bloomberg)