Logo Bloomberg Technoz

PEMBANGKIT LISTRIK

Rosatom Mau Bangun PLTN di Halmahera, Sulit Gantikan PLTU Smelter

Azura Yumna Ramadani Purnama
30 October 2026 13:50

Para peserta melewati stan Rosatom Corp. di konferensi energi Enlit di Cape Town, Afrika Selatan./Bloomberg-Dwayne Senior
Para peserta melewati stan Rosatom Corp. di konferensi energi Enlit di Cape Town, Afrika Selatan./Bloomberg-Dwayne Senior

Bloomberg Technoz, Jakarta – Pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terapung yang bakal dibangun BUMN Rusia, Rosatom, sulit menjadi alternatif listrik untuk dimanfaatkan smelter di kawasan Halmahera.

Yayan mencatat PLTN yang bakal dibangun Rosatom berkapasitas 2x100 megawatt (MW) atau sebesar 200 MW dengan faktor beban 90% menghasilkan sekitar 1,59 terawatt hour (TWh) per tahun.

Produksi listrik tersebut, kata Yayan, hanya setara 5% energi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive di sentra nikel PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) sebesar 4,5 gigawatt (GW) yang menghasilkan listrik 31,8 TWh.


“Tidak sebagai solusi listrik smelter. Ukurannya terlalu kecil, waktunya terlalu lama, biayanya belum jelas, dan kerangka hukumnya belum siap. Bila pemerintah tetap menginginkan tenaga nuklir, jalurnya harus terpisah, terbuka, dan bersyarat,” kata Yayan kepada Bloomberg Technoz, Jumat (30/10/2026).

Selain kapasitasnya yang relatif kecil, Yayan menilai rencana PLTN terapung tersebut juga menghadapi persoalan waktu pembangunan.