Trump kembali mengklaim bahwa pihak Iran sebenarnya mulai mencari celah untuk bernegosiasi setelah serangan-serangan AS berhasil melumpuhkan kemampuan rudal dan drone milik negara tersebut.
“Kami menerima panggilan telepon tepat saat saya hendak ke sini, yang menyatakan bahwa mereka ingin bertemu,” ujar Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox Business. “Mereka selalu ingin bertemu.”
Kendati demikian, pihak Teheran belum memberikan konfirmasi resmi secara terbuka terkait adanya keinginan untuk melanjutkan kembali proses negosiasi.
Di tengah ancaman Iran yang akan menyerang kapal-kapal yang nekat melintasi selat tersebut, AS menyatakan telah memberikan pengawalan bagi belasan kapal dalam semalam. Komando Pusat AS dalam pernyataan resminya menyebutkan bahwa pasukannya sempat menembakkan rudal Hellfire ke arah cerobong asap sebuah kapal tanker tanpa muatan berbendera Curacao, saat kapal tersebut berlayar menuju pelabuhan Iran.
“Kapal tersebut mengabaikan beberapa peringatan saat mencoba melanggar blokade AS,” tambah Komando Pusat AS. “Kapal tersebut kini dipastikan tidak lagi melanjutkan pelayaran menuju Iran.” Sebelumnya, dua kapal lainnya juga telah dipaksa putar balik.
Sementara itu, Kepala Organisasi Maritim Internasional (IMO), sebuah badan di bawah naungan PBB, menyampaikan kepada Bloomberg Radio pada hari Rabu bahwa Selat Hormuz saat ini masih terlalu berbahaya untuk dilintasi oleh kapal-kapal komersial. Ini menjadi peringatan paling serius bagi industri pelayaran global sejak kesepakatan bulan Juni lalu.
Kedua belah pihak kini saling tuduh terkait pelanggaran ketentuan dalam nota kesepahaman (MoU) tersebut. Pasalnya, poin dalam MoU itu dinilai memiliki multitafsir mengenai seberapa cepat kapal-kapal komersial bisa mendapatkan akses bebas untuk melintasi Hormuz.
Dalam sebuah wawancara di siniar Joe Rogan, Wakil Presiden AS JD Vance menggambarkan strategi yang dijalankan Amerika sebagai "tarian diplomatik yang rumit."
“Kami menggunakan berbagai titik tekanan ekonomi. Kami menerapkan pendekatan penghargaan dan hukuman. Kami mencoba berbicara dengan kelompok pragmatis. Dan tentu saja, ketika mereka melakukan tindakan kekerasan, kami meresponsnya. Semua hal ini terjadi secara bersamaan untuk membawa kita pada jalur yang lebih baik,” jelas Vance.
Ia juga mengaku frustrasi terhadap pihak-pihak yang menolak negosiasi dengan Iran.
"Saya frustrasi terhadap warga Amerika dan, terus terang, juga orang-orang di negara lain yang berkata, 'Anda tidak bisa bernegosiasi dengan Iran.' Kalau begitu, apa usulan Anda agar orang-orang berhenti menembaki kapal-kapal di Selat Hormuz?" ujarnya.
Gelombang serangan terbaru AS sebagian besar menyasar fasilitas militer di wilayah selatan Iran, seperti radar, pangkalan rudal, dan fasilitas drone. Meski demikian, intensitas serangan masih jauh lebih rendah dibandingkan puncak konflik pada Maret dan awal April, ketika Teheran dan kota-kota besar lainnya terus-menerus menjadi sasaran serangan.
Iran sendiri belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur.
"Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat menerima sistem hukum Iran, dan mekanisme yang didasarkan pada kehendak Iran mengatur selat tersebut," kata Angkatan Darat Iran dalam pernyataan yang dikutip kantor berita semi-resmi Fars.
"Ekspor minyak dan gas kawasan hanya tersedia bagi semua pihak atau tidak tersedia bagi siapa pun," demikian pernyataan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang dikutip Press TV.
Ketua Parlemen sekaligus negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Iran "tidak memiliki alasan untuk tetap berkomitmen" terhadap kesepakatan jika Teheran tidak memperoleh manfaat darinya. Namun, ia belum menyatakan Iran secara resmi menarik diri dari kesepakatan tersebut.
Di Washington, Partai Republik di Kongres terus mendorong rencana peningkatan anggaran perang, meski langkah itu dinilai berisiko secara politik karena mendukung kampanye militer yang tidak populer dan telah memicu kenaikan harga bagi konsumen.
Sementara itu, pejabat pemerintahan Trump juga sedang mempersiapkan perpanjangan kebijakan pengecualian pengiriman yang selama ini mempermudah distribusi minyak, bahan bakar, dan pupuk di Amerika Serikat, mengingat konflik baru dengan Iran berpotensi menyebabkan gangguan pasokan yang berkepanjangan.
Di sisi lain, regulator keselamatan penerbangan Uni Eropa meningkatkan tingkat kewaspadaan bagi maskapai yang melintasi kawasan Timur Tengah. Otoritas tersebut memperingatkan maskapai agar menghindari wilayah udara Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Teluk Oman.
Pemerintah Iran menyatakan lebih dari 30 warga sipil tewas akibat serangan AS dalam beberapa hari terakhir. Militer Iran pada Rabu juga mengatakan tujuh orang tewas akibat serangan rudal terhadap sebuah barak di Kota Iranshahr, wilayah tenggara negara itu.
Meski demikian, Amerika Serikat tetap melanjutkan blokade laut terhadap Iran. Langkah yang pertama kali diberlakukan pada April, kemudian dicabut bulan lalu setelah tercapainya nota kesepahaman, kini kembali diterapkan dan diperkirakan akan semakin menekan perekonomian Iran yang tengah menghadapi berbagai kesulitan.
(bbn)





























