Konflik Selat Hormuz Bayangi Rupiah, S&P dan SUN Jadi Penopang
Tim Riset Bloomberg Technoz
16 July 2026 07:53

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah di perdagangan Non-Deliverable Forwards (NDF) dibuka stagnan di Rp18.102/US$. Kemudian pada 06:50 WIB, rupiah melemah 0,12% ke Rp18.124/US$ dan pada 07:29 WIB berbalik menguat terbatas 0,01% menjadi Rp18.100/US$.
Volatilitas rupiah di pasar luar negeri disebabkan oleh sentimen harga minyak mentah yang melanjutkan kenaikan setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan baru terhadap Iran. Langkah agresif AS itu memicu kekhawatiran bahwa ketagangan di Timur Tengah akan semakin mengganggu pasokan energi global.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangangkan di atas US$80 per barel, setelah melonjak 11%. Sementara, harga minyak mentah Brent terkerek 0.57% ke US$85,21 per barel. Kenaikan harga minyak terus terjadi lantaran AS melanjutkan serangan terhadap Iran untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara, di pasar obligasi, US Treasury menguat setelah data inflasi produsen AS pada Juni tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar. Kondisi ini membuat pelaku pasar mengurangi proyeksi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tahun ini.
Pelaku pasar sekarang tengah memperhitungkan sekitar 10% probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 bps. Di tengah kondisi ini pergerakan dolar AS menjadi terbatas dan membuat indeks dolar berada di 100,45 setelah menyusut 0,43% pada penutupan perdagangan kemarin.





























