Konflik Hormuz Memanas, Harga Minyak Bertahan di Level Tertinggi
News
16 July 2026 06:30

Kanoko Matsuyama - Bloomberg News
Bloomberg, Harga minyak mentah dunia mempertahankan tren penguatan yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Kondisi ini terjadi seiring Amerika Serikat (AS) yang terus melancarkan serangan ke wilayah Iran, demi mengamankan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$80 per barel, setelah sempat melonjak lebih dari 11% dalam tiga sesi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent ditutup di atas level US$85 per barel. Militer AS kembali meluncurkan gelombang serangan udara baru ke Iran pada hari Rabu (15/7), dan mengeklaim telah melumpuhkan sebuah kapal tanker tanpa muatan yang tengah berlayar menuju pelabuhan di negara anggota OPEC+ tersebut.
Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam sekitar satu bulan terakhir karena eskalasi konflik kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang kaya minyak. Kenaikan ini menghapus sebagian dari penurunan sekitar 30% yang terjadi sepanjang kuartal kedua. Di saat yang sama, serangan hampir setiap hari yang dilakukan Ukraina terhadap fasilitas produksi bahan bakar dan kapal tanker Rusia juga semakin mengancam pasokan energi global.
"Jadi, kini kita bukan hanya kembali kehilangan akses melalui Selat Hormuz, tetapi juga kehilangan pasokan minyak mentah dan kilang di Rusia," kata Jeff Currie, penasihat senior di Carlyle Group Inc., dalam wawancara dengan Bloomberg TV. "Situasi di sektor energi, menurut saya, sangat mengkhawatirkan."





























