Logo Bloomberg Technoz

Membedah Sebab Harga Nikel Tak Terbang Meski RI Pangkas RKAB 2026

Azura Yumna Ramadani Purnama
15 July 2026 11:00

Bubuk nikel dipamerkan saat Investor Day di NYSE./Bloomberg-Michael Nagle
Bubuk nikel dipamerkan saat Investor Day di NYSE./Bloomberg-Michael Nagle

Bloomberg Technoz, Jakarta – Indef Green Transition Initiative (GTI) menilai kebijakan pengendalian produksi bijih nikel di Indonesia belum ampuh mendongkrak harga nikel global secara signifikan akibat perbedaan jenis logam yang dihasilkan di dalam negeri dengan acuan pasar global.

Head of Industrial and Transport Decarbonization INDEF GTI Andry Satrio Nugroho menjelaskan mayoritas smelter di Tanah Air menghasilkan nikel kelas 2, sedangkan harga acuan di London Metal Exchange (LME) terbentuk dari perdagangan nikel kelas 1.

Andry menilai kebijakan pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 memang mulai menekan operasi smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) dan hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL). 


Akan tetapi, dua jenis smelter tersebut di Indonesia hanya menghasilkan produk berupa nickel pig iron (NPI), feronikel (FeNi), nickel matte, dan mixed hydroxide precipitate (MHP).

Smelter nikel./Bloomberg-Cole Burston

Seluruh produk tersebut termasuk nikel kelas 2 dan tidak dapat diserahkan ke gudang LME.