Logo Bloomberg Technoz

Ekonom Ungkap Sejumlah Faktor yang Tahan Penguatan Rupiah

Mis Fransiska Dewi
08 July 2026 11:50

Rupiah. dok: Bloomberg
Rupiah. dok: Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom membeberkan pemulihan nilai tukar rupiah belum sepenuhnya akan terjadi karena penguatan sebelumnya lebih banyak ditopang oleh arus modal jangka pendek dan kebijakan stabilisasi Bank Indonesia (BI) sementara hingga kini masih terdapat sejumlah tekanan struktural. 

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pelemahan rupiah mendekati Rp18.000/US$ terjadi karena tekanan yang datang dari dua arah sekaligus yakni tekanan global yang kembali menguat dan faktor domestik yang belum cukup meyakinkan pasar. 

Dari sisi global, dolar Amerika Serikat (AS) masih ditopang oleh ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi, imbal hasil obligasi AS 10 tahun yang berada di sekitar 4,48%, serta pasar yang masih menunggu data ekonomi AS dan risalah rapat bank sentral AS. 


Sejalan dengan hal itu, laporan Maybank juga memperkirakan indeks dolar AS bergerak dalam kisaran 100,50–101,80 dalam jangka pendek, yang berarti ruang penguatan dolar masih terbuka bila data AS kembali kuat.

Josua menjelaskan, tekanan rupiah juga dipicu oleh arus modal yang belum sepenuhnya kuat. Meskipun pada Juni 2026 Indonesia mencatat aliran masuk portofolio sekitar US$5,52 miliar, terutama ke SRBI sebesar US$3,85 miliar dan SBN sebesar US$1,26 miliar, sementara pasar saham masih outflow US$1,09 miliar.