Logo Bloomberg Technoz

“Artinya, dukungan ke rupiah lebih banyak berasal dari instrumen jangka pendek seperti SRBI, bukan dari arus modal jangka panjang yang lebih stabil. Kondisi ini membuat rupiah bisa menguat cepat ketika ada arus masuk, tetapi juga mudah kembali tertekan ketika sentimen global berubah,” kata Josua ketika dihubungi, Rabu (8/7/2026). 

Tak hanya itu, dia menyebut faktor eksternal Indonesia juga belum sepenuhnya nyaman. Neraca perdagangan Mei 2026 mencatat defisit US$1,16 miliar. Defisit pertama dalam lebih dari enam tahun, karena impor tumbuh 22,16% secara tahunan sementara ekspor turun 5,73%. 

Kondisi tersebut, kata dia, memberi sinyal bahwa kebutuhan valas untuk impor masih tinggi, sedangkan penerimaan valas dari ekspor melemah. Jika tren surplus perdagangan makin mengecil dan transaksi berjalan melebar, maka tekanan ke rupiah akan lebih besar meskipun cadangan devisa masih memadai.

Selain itu, tekanan inflasi domestik juga mulai menjadi perhatian. Inflasi Juni 2026 naik menjadi 3,34% secara tahunan dan 0,44% secara bulanan, terutama karena kenaikan harga BBM nonsubsidi, tarif angkutan udara, pangan, dan pelemahan rupiah yang menaikkan biaya barang impor. 

“Ini penting karena pelemahan rupiah tidak hanya menjadi isu pasar keuangan, tetapi mulai berpotensi masuk ke harga barang konsumsi dan biaya produksi. Bila tekanan ini berlanjut, pasar akan menilai BI perlu menjaga suku bunga tinggi lebih lama,” jelas dia.

Josua berpandangan, dalam jangka pendek atau sepekan ke depan rupiah kemungkinan masih bergerak rapuh di kisaran Rp17.900/US$–18.150/US$. Rupiah bisa kembali ke bawah Rp18.000 bila dolar AS melemah, imbal hasil obligasi AS turun, harga minyak tetap terkendali, dan lelang SBN mendapat permintaan yang baik. 

“Namun, jika data AS kuat, risalah rapat bank sentral AS bernada ketat, harga minyak naik, atau investor asing kembali mengurangi posisi di SBN dan saham, rupiah berisiko bertahan di atas Rp18.000/US$,” Josua menegaskan. 

Berdasarkan data Bloomberg yang dia himpun, USD/IDR berada di sekitar Rp17.988, sementara imbal hasil SBN 10 tahun naik ke 7,13% menjelang hasil lelang SBN, sehingga pasar masih menuntut imbal hasil tinggi untuk memegang aset rupiah.

Cadev Masih Kuat

Di sisi lain, dia menilai cadangan devisa (cadev) sekitar US$145 miliar belum menunjukkan BI kehabisan amunisi. Justru cadev naik menjadi US$145,9 miliar pada akhir Juni dari US$144,9 miliar pada akhir Mei. Angka ini setara 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. 

“Jadi, bila rupiah kembali menembus Rp18.000/US$, respons BI seharusnya bukan panik, tetapi memperkuat stabilisasi secara terukur agar cadangan devisa tidak terkuras berlebihan,” terangnya. 

Josua berpendapat arah kebijakan moneter ke depan kemungkinan tetap defensif. BI sudah menaikkan suku bunga acuan alias BI-Rate menjadi 5,75% pada rapat dewan gubernur (RDG) Juni, dengan alasan memperkuat stabilisasi rupiah dan menjaga inflasi 2026–2027 tetap dalam sasaran. 

BI juga menyatakan akan meningkatkan intervensi valas melalui pasar dalam negeri dan luar negeri, menjaga daya tarik SRBI, serta tetap menggunakan kebijakan makroprudensial longgar agar kredit sektor riil tidak terlalu tertekan. 

“Jadi, kebijakan BI akan tetap berlapis: intervensi valas, penguatan instrumen rupiah jangka pendek, pengelolaan likuiditas, dan suku bunga yang tetap tinggi,” ujarnya. 

Kenaikan BI Rate

Josua menilai jika rupiah hanya sesaat menembus Rp18.000/US$, nampaknya BI belum tentu langsung menaikkan kembali suku bunga. Bank sentral, kata dia, kemungkinan akan lebih dulu memperkuat intervensi, menjaga imbal hasil SRBI, dan memastikan pasokan valas tetap cukup. 

Akan tetapi, jika rupiah bertahan lama di atas Rp18.000/US$, pelemahan mulai tidak teratur, inflasi makin mendekati batas atas sasaran, dan aliran modal keluar meningkat, maka peluang kenaikan BI-Rate tambahan 25 basis poin menuju 6,00% akan kembali terbuka. 

Josua menyarankan kenaikan suku bunga sebaiknya menjadi opsi terakhir karena biaya ke sektor riil cukup besar, terutama saat PMI manufaktur sudah melemah dan daya beli masyarakat belum pulih kuat.

“BI tetap menjaga stabilitas rupiah tanpa terlalu agresif menguras cadangan devisa, pemerintah memperkuat kredibilitas fiskal dan pasokan valas dari ekspor, serta koordinasi kebijakan diarahkan untuk menjaga kepercayaan pasar. Selama kepercayaan pasar belum membaik, rupiah akan tetap sensitif di sekitar batas psikologis Rp18.000/US$,” jelas dia.

(mfd/ell)

No more pages