Logo Bloomberg Technoz

Harga Batu Bara DMO ke Pembangkit Disarankan Naik Jadi US$90

Azura Yumna Ramadani Purnama
08 July 2026 10:30

Batu bara diturunkan dari truk di Pelabuhan Karya Citra Nusantara (KCN) Marunda di Jakarta, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian
Batu bara diturunkan dari truk di Pelabuhan Karya Citra Nusantara (KCN) Marunda di Jakarta, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) menyarankan harga batu bara program wajib pasok domestik atau domestic market obligation (DMO) direvisi ke level US$80—US$90 per ton, level tersebut dinilai mencerminkan keekonomian batu bara dan tetap menguntungkan seluruh pihak.

Ketua IMEF Singgih Widagdo menyatakan harga batu bara DMO ke pembangkit listrik senilai US$70/ton yang berlaku saat ini merupakan patokan untuk kualitas tinggi atau dengan nilai kalor 6.322 kcal/kg, sehingga batu bara untuk pembangkit yang berkualitas sedang biasanya dihargai US$34—US$39 per ton.

Singgih menegaskan harga batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tersebut berada di bawah harga keekonomian.


Bahkan, Singgih mengaku sempat mengusulkan harga DMO batu bara dipatok disekitar US$85/ton, ketika kebijakan harga batu bara domestik atau domestic price obligation (DPO) dirancang.

Pembangkit listrik tenaga batubara Cirebon-1 di Cirebon, Jawa Barat, Indonesia./Bloomberg-Muhammad Fadli

“Sehingga kalau saya berhitung, dan dulu kita rapat, saya masih APBI itu kan usulannya antara US$85-an [per ton]. Menurut saya, antara US$80—US$90-an [per ton] itu pilihan terbaik lah kondisi saat ini menurut saya,” kata Singgih dalam diskusi publik Aspebindo, Selasa (7/7/2026).