Logo Bloomberg Technoz

DBS: Pasar Surat Utang RI Tertekan Rupiah dan Harga Minyak

Tim Riset Bloomberg Technoz
19 May 2026 19:10

Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)
Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar obligasi Indonesia diperkirakan masih akan berada di bawah tekanan seiring harga minyak mentah global bertahan di level tinggi serta adanya kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), US Treasury, yang bisa mendorong aliran modal keluar dari aset negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Melansir laporan Bank DBS yang dikutip Bloomberg pada Selasa (19/5/2026), obligasi pemerintah Indonesia masih akan berada dalam tekanan meski secara valuasi mulai terlihat menarik, terutama pada tenor pendek. 

"Persistennya volatilitas nilai tukar dan risiko arus keluar modal membuat sikap hati-hati masih diperlukan dalam jangka pendek,” tulis strategist DBS, Sherilyn Chew, dalam catatannya. 


Dalam kondisi normal, kenaikan yield domestik biasanya mulai memancing minat beli investor karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Namun situasi saat ini berbeda. Risiko eksternal bergerak terlalu cepat, sementara stabilitas rupiah belum sepenuhnya pulih.

Rupiah sepanjang tahun ini telah melemah 5,86% dan beberapa kali mencetak rekor pelemahan sepanjang masa, seperti hari ini rupiah ditutup melemah ke level Rp17.705/US$ setelah sempat menyentuh level All Time Low di Rp17.733/US$ pada 13.54 WIB. 

Rupiah dan mata uang Asia sepanjang tahun 2026 (year-to-date), Selasa (19/5/2026). (Bloomberg)