Logo Bloomberg Technoz

Sektor AI Ubah Peta Persaingan Bisnis Global, China Memimpin

Merinda Faradianti
21 May 2026 20:10

Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). dok: Bloomberg
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). dok: Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menjadi mesin utama pertumbuhan bisnis global. Namun, dampaknya berbeda-beda di setiap kawasan, dengan China muncul sebagai negara yang paling agresif memanfaatkan AI untuk meningkatkan pendapatan perusahaan.

Laporan terbaru Strategy&, divisi strategi global PwC menunjukkan perusahaan-perusahaan di China mencatat peningkatan penjualan hingga 51% berkat implementasi AI ini. Angka tersebut menjadi yang tertinggi secara global dan jauh melampaui rata-rata dunia sebesar 29%. Selain mendongkrak pendapatan, perusahaan di China juga berhasil memangkas biaya operasional sebesar 26% melalui pemanfaatan AI.

Menurut PwC, perusahaan-perusahaan China kini bergerak cepat mengintegrasikan AI ke dalam hampir seluruh rantai bisnis, mulai dari manufaktur, rantai pasok, pemasaran, layanan pelanggan, hingga pengembangan produk.

“AI bukan lagi fitur yang berlapis ke proses yang ada, AI mulai menentukan bagaimana strategi ditetapkan, bagaimana operasi berjalan, dan di mana keunggulan kompetitif dibangun atau hilang,” tulis laporan tersebut, dikutip Kamis (21/5/2026).

China Fokus pada Pertumbuhan, AS Tekan Biaya

Laporan PwC mencatat pendekatan China terhadap AI berbeda dibanding Amerika Serikat dan Eropa. Di China, AI lebih banyak digunakan untuk menciptakan peluang bisnis baru dan meningkatkan pendapatan. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan AS lebih fokus menggunakan AI untuk efisiensi operasional.

Laporan tersebut menunjukkan perusahaan di Amerika Serikat mampu memangkas biaya hingga 38% melalui AI, tertinggi di dunia. Namun dampaknya terhadap peningkatan penjualan hanya mencapai 21%.

PwC menilai perusahaan-perusahaan AS saat ini lebih agresif mengotomatisasi pekerjaan administratif, back-office, analitik, dan pengelolaan operasional untuk meningkatkan profitabilitas.

Sementara di Uni Eropa, perusahaan mencatat kenaikan penjualan 14% dan efisiensi biaya 22%. Adapun di Jerman, peningkatan penjualan hanya 11% dengan pengurangan biaya 16%.

PwC menyebut regulasi yang lebih ketat dan pendekatan yang lebih hati-hati terhadap AI menjadi salah satu faktor yang membuat adopsi AI di Eropa bergerak lebih lambat dibanding China maupun AS.

“Eropa dan Jerman khususnya, semakin tertinggal dari China dan AS dalam peningkatan pendapatan dan pengurangan biaya melalui AI, mengubah kematangan AI menjadi pertanyaan daya saing ekonomi daripada kemampuan teknologi,” tulis laporan tersebut.

AI Bukan Lagi Eksperimen

PwC menegaskan pula bahwa AI kini telah bergeser dari sekadar proyek eksperimen menjadi fondasi transformasi bisnis jangka panjang.

Perusahaan global kini mulai mengintegrasikan AI untuk pengambilan keputusan, otomatisasi proses bisnis, pengembangan layanan personalisasi, analisis perilaku pelanggan, hingga optimalisasi rantai pasok.

PwC menilai, perusahaan yang mampu menerapkan AI secara menyeluruh akan memiliki keunggulan kompetitif besar dalam beberapa tahun ke depan.

“AI tidak lagi hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana perusahaan menciptakan nilai bisnis baru,” tulis laporan tersebut.

PwC mencatat perubahan besar dalam pola investasi perusahaan global. Jika sebelumnya fokus investasi lebih banyak diarahkan pada pembangunan infrastruktur digital, kini perusahaan mulai mengalokasikan dana lebih besar untuk integrasi AI ke dalam proses bisnis inti.

Investasi tidak hanya mencakup model AI dan cloud computing, tetapi juga pengembangan talenta digital, pengelolaan data, serta pelatihan tenaga kerja agar mampu bekerja bersama sistem AI. 

Menurut PwC, perusahaan kini mulai menyadari bahwa keberhasilan AI tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesiapan organisasi dan kualitas data yang dimiliki.

Risiko dan Tantangan AI

Meski memberikan manfaat besar, PwC memperingatkan implementasi AI tetap menghadirkan tantangan signifikan. Beberapa risiko utama yang disorot meliputi keamanan data, algoritma, regulasi, transparansi keputusan AI, hingga potensi perubahan besar terhadap pasar tenaga kerja.

PwC menyebut banyak perusahaan masih menghadapi kesulitan mengintegrasikan AI dengan sistem lama mereka, terutama di sektor industri tradisional. Selain itu, kebutuhan tenaga kerja dengan kemampuan AI meningkat tajam secara global, sementara ketersediaan talenta digital masih terbatas.

AI Berpeluang Ambil Alih 300 Juta Pekerjaan Penuh Waktu (Bloomberg Technoz/Asfahan)