Logo Bloomberg Technoz

Isu Uranium dan Selat Hormuz Dorong Kembali Harga Minyak Dunia

News
22 May 2026 07:15

Ilustrasi harga minyak. (Bloomberg)
Ilustrasi harga minyak. (Bloomberg)

Rong Wei Neo - Bloomberg News

Bloomberg, Harga minyak mentah bergerak naik setelah mengalami penurunan selama tiga hari berturut-turut. Kenaikan ini dipicu oleh pernyataan pihak Iran terkait cadangan uranium dan Selat Hormuz, yang mengikis optimisme awal atas kemajuan negosiasi dengan AS.

West Texas Intermediate (WTI) merangkak naik mendekati US$98 per barel, sementara Brent ditutup di atas US$102 per barel pada perdagangan Kamis (21/5). Iran menyatakan bahwa proposal terbaru dari AS berhasil menjembatani sebagian celah perbedaan di antara kedua pihak yang bertikai. Namun, pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran tentang rencana mempertahankan cadangan uranium Teheran, serta perselisihan mengenai tarif tol di Selat Hormuz, membuat prospek kesepakatan damai kembali tidak pasti.

Grafik harga minyak mentah Brent. (Sumber: Bloomberg)

Pernyataan yang saling bertentangan mengenai isu-isu krusial tersebut membuat kejelasan posisi kedua belah pihak dalam mencapai kesepakatan menjadi kabur, terlebih setelah adanya ancaman eskalasi baru-baru ini. Situasi ini menahan pergerakan harga minyak karena para pelaku pasar mencoba memperkirakan kapan arus pengiriman energi melalui selat tersebut akan pulih sepenuhnya. Menurut Goldman Sachs Group Inc, perang yang berlarut-larut dan pemotongan pasokan telah menyebabkan penurunan cadangan minyak mentah serta produk turunannya di tingkat global berada pada rekor tercepat.

"Pemberitaan yang terus berubah-ubah ini jelas mengurangi pengambilan risiko, baik di pasar berjangka maupun pasar fisik," kata Rebecca Babin, pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Group. "Para pembeli yang memanfaatkan penurunan harga masih enggan masuk sebelum ada kepastian pemulihan arus logistik di Selat Hormuz, sementara pelaku pasar fisik memilih untuk terus mengurangi stok dan menunggu daripada mengejar kargo yang mahal."