Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak Naik Lagi, Rupiah Defensif di Luar Negeri

Tim Riset Bloomberg Technoz
26 March 2026 08:35

Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka stagnan sama dengan nilai penutupan perdagangan kemarin di level Rp16.800-an/US$, setelah menguat 0,22%. 

Hari ini, Kamis (26/3/2026), rupiah offshore dibanderol Rp16.860/US$ dalam pembukaan, dengan selisih 0,4% dari penutupan kemarin Rp16.866/US$. Akan tetapi, tak berselang lama rupiah terpeleset 0,18% ke Rp16.896/US$. 

Indeks dolar AS kembali menguat tipis 0,02% ke 99,61 dan membawa mata uang di pasar Asia yang sudah dibuka sebagian bergerak di zona merah. Pagi ini pelemahan dipimpin oleh baht Thailand yang tergerus 0,47%, won Korea Selatan 0,3%, ringgit Malaysia 0,13%, yuan offshore dan dolar Singapura masing-masing 0,2% dan 0,1%.


Sebaliknya, hanya dolar Hong Kong dan yuan China yang menguat masing-masing 0,04% dan 0,03%. 

Harga minyak mentah Brent kembali naik 1,03% ke US$103,27 per barel ikut menambah beban sentimen bagi pasar Asia yang mengandalkan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah. Kabar bahwa Iran menolak rencana perdamaian AS membuat pupus harapan berakhirnya perang yang kemarin sempat mengemuka dan membuat pasar keuangan Asia kembali memiliki sedikit tenaga.