Logo Bloomberg Technoz

Perang Picu Bank Sentral Dunia Ambil Langkah Hawkish

Tim Riset Bloomberg Technoz
25 March 2026 14:10

Jerome Powell, Ketua Bank Sentral AS atau the Federal Reserve. (Dok: Bloomberg)
Jerome Powell, Ketua Bank Sentral AS atau the Federal Reserve. (Dok: Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Risiko inflasi akibat perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran akibat kenaikan harga minyak, membuat sejumlah bank sentral dunia bersikap hati-hati dengan menahan langkah pelonggaran. 

Sebagai kawasan yang terdiri dari negara-negara dengan tingkat ketergantungan tinggi terhadap energi impor dari Timur Tengah, respons bank sentral di kawasan ini cukup seragam. Meski begitu, dinamika domestik tiap negara cenderung berbeda, mulai dari tekanan terhadap nilai tukar, hingga risiko stagflasi. 

Dari domestik, Bank Indonesia (BI) masih menghadapi risiko klasik negara berkembang, yaitu antara menjaga stabilitas nilai tukar mata uangnya, dan mendorong pertumbuhan. 


Rupiah sejak awal tahun melemah 1,13%, meski bukan yang terburuk di kawasan namun pelemahan rupiah sempat menembus batas terendahnya sepanjang masa pada 16 Maret 2026 di level Rp16.997/US$ dalam sesi perdagangan spot 13.30 WIB. 

Level tertsebut telah melampaui posisi terlemah rupiah Rp14.950/US$ pada masa krisis moneter di tahun 1998, dan masa pandemi Covid-19 pada 2020 di posisi Rp16.310/US$.