Logo Bloomberg Technoz

Oleh karenanya, Misbakhun bilang harus ada antisipasi berupa penguatan daya beli masayarakat yang berpotensi digerogoti oleh inflasi. Salah satunya adalah dengan menambah investasi di Indonesia.

“Sementara kita menargetkan pertumbuhan di 5,4% Harusnya diimbangi oleh apa? Oleh investasi yang kuat Kenapa? [Supaya] terjadi penciptaan lapangan pekerjaan.” katanya.

Misbakhun mencontohkan berbagai investasi dan akselerasi yang dilakukan oleh Danantara dan Komisi XI. Meskipun akan terjadi J-Curve (Penurunan di awal investasi), Misbakhun meyakini bahwa akan memiliki dampak positif bagi perekonomian masyarakat. 

“Tetapi tentunya investasi-investasi ini kan pada saat mereka masih groundbreaking dan sebagainya, ini kan ada faktor-faktor produksi yang bisa mereka bangun. Dan ini harusnya membuat dorongan terhadap pertumbuhan dan lapangan pekerjaan.”

Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung mengatakan desain fiskal Indonesia sejak awal disusun dengan prinsip kehati-hatian dan fleksibilitas sehingga memiliki bantalan saat terjadi guncangan global termasuk potensi kenaikan harga minyak.

“Fleksibel artinya termasuk kalau terjadi shock-shock. Sebelum terjadi shock-shock, maka ada cadangan fiskal yang dapat dilakukan untuk menahan.” kata Juda dalam CNN Indonesia Economic Forum, Senin (2/3/2026).

Selain ruang fiskal, pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber pembiayaan guna menjaga ketahanan terhadap gejolak pasar keuangan global. Ketergantungan pada pembiayaan berbasis dolar AS mulai dikurangi melalui penerbitan global bond dalam mata uang lain.

Ia mencontohkan pemerintah baru saja menerbitkan surat utang global senilai US$4,5 miliar dalam denominasi euro dan renminbi dengan biaya yang dinilai masih kompetitif, masing-masing sekitar 4%–5% untuk euro dan 2%–3% untuk renminbi.

(ell)

No more pages