Halodoc Ungkap Tantangan Kesehatan di Awal Ramadan

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bulan Ramadan menjadi momentum spiritual sekaligus tantangan fisiologis bagi tubuh. Pada fase awal puasa, tubuh harus beradaptasi dengan perubahan jam makan, pola tidur, serta asupan cairan. Data terbaru menunjukkan bahwa minggu pertama Ramadan merupakan periode paling krusial dalam menjaga keseimbangan kesehatan secara menyeluruh.
Indonesia Health Insights Report 2026 Q1 yang dirilis Halodoc mencatat adanya lonjakan konsultasi kesehatan pada awal Ramadan. Gangguan pencernaan seperti maag dan GERD menjadi keluhan yang paling sering muncul, melampaui rata-rata mingguan sebelum puasa. Pola ini konsisten terjadi dalam dua tahun terakhir, terutama pada hari ketiga Ramadan.
Selain gangguan pencernaan, laporan tersebut juga mencatat tingginya keluhan pusing berputar atau vertigo. Sebanyak 68 persen pengguna yang berkonsultasi terkait masalah pencernaan juga mengalami vertigo secara bersamaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa adaptasi awal puasa tidak hanya berdampak pada sistem cerna, tetapi juga keseimbangan tubuh secara umum.
Analisis Halodoc mengungkap bahwa vertigo selama Ramadan banyak dipicu oleh perubahan pola tidur, kelelahan, serta dehidrasi. Tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan ritme biologis akibat pergeseran waktu istirahat dan aktivitas harian. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat mengganggu produktivitas dan kualitas ibadah.
Menariknya, laporan ini juga menyoroti keluhan kesehatan yang kerap luput dari perhatian publik. Pada minggu pertama puasa, konsultasi terkait gangguan menstruasi meningkat rata-rata 44 persen dibandingkan periode sebelum Ramadan. Sementara itu, keluhan jerawat dan masalah kulit mengalami kenaikan sebesar 22 persen.
Perempuan menjadi kelompok yang paling banyak melaporkan gangguan siklus menstruasi selama Ramadan. Keluhan yang muncul meliputi telat haid, haid tertunda selama puasa, flek di luar jadwal, hingga nyeri haid yang terasa lebih berat. Kondisi ini berulang setiap tahun dan sering kali tidak disadari sebagai bagian dari proses adaptasi tubuh.
Di sisi lain, perubahan pola makan dan tidur juga berdampak pada kesehatan kulit. Konsumsi makanan manis saat berbuka, kurang tidur, serta stres dapat memicu peradangan kulit. Keluhan yang dilaporkan meliputi jerawat meradang, bruntusan, komedo, hingga rasa gatal dan kemerahan yang mengganggu kenyamanan.
dr. Irwan Heriyanto, MARS, Board of Medical Excellence Halodoc, menjelaskan bahwa fase awal Ramadan merupakan periode adaptasi biologis yang sangat penting. “Perubahan rutinitas seperti jam makan dan tidur selama Ramadan mempengaruhi keseimbangan hormon dan metabolisme tubuh. Kurang tidur, konsumsi makanan tinggi gula saat berbuka, serta perubahan pola hidrasi dapat memicu peradangan kulit,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak penghentian konsumsi kafein bagi sebagian orang yang terbiasa minum kopi setiap hari. “Pada sebagian orang yang terbiasa minum kopi setiap hari, penghentian asupan kafein saat mulai berpuasa juga dapat menyebabkan menurunnya konsentrasi dan menimbulkan sakit kepala,” tambah dr. Irwan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa adaptasi tubuh dan tingkat stres selama puasa turut memengaruhi kesehatan reproduksi perempuan. “Oleh karena itu, penting untuk mempersiapkan tubuh secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada kesehatan pencernaan saja,” jelasnya.
Panduan Praktis Menjaga Kesehatan di Awal Ramadan
Menjawab berbagai tantangan tersebut, Indonesia Health Insights Report 2026 Q1 merangkum panduan praktis berbasis rekomendasi dokter. Tujuannya membantu masyarakat menjalani minggu pertama Ramadan dengan lebih nyaman dan aman.
Untuk menjaga kesehatan pencernaan dan energi tubuh, masyarakat dianjurkan menerapkan pola minum bertahap 2–4–2 antara berbuka hingga sahur. Pola ini membantu menjaga hidrasi tanpa membebani sistem pencernaan. Konsumsi serat dan buah juga perlu ditingkatkan, sementara makanan tinggi gula dan minuman bersoda sebaiknya dibatasi.
Aktivitas fisik ringan tetap dianjurkan selama Ramadan untuk menjaga metabolisme tubuh. Selain itu, asupan vitamin C dan zinc sesuai kebutuhan dapat membantu mendukung daya tahan tubuh, terutama pada fase adaptasi awal puasa.
Dalam menjaga kesehatan kulit, pengaturan pola makan menjadi faktor penting. Mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dapat membantu menekan risiko peradangan kulit. Waktu tidur yang cukup serta pengelolaan stres juga berperan besar dalam menjaga keseimbangan hormon dan kesehatan kulit.
Perawatan dasar kulit perlu dilakukan secara konsisten untuk menjaga skin barrier. Apabila jerawat memburuk atau sering kambuh, konsultasi medis dianjurkan agar penanganan dapat dilakukan secara tepat dan personal.
Sementara itu, untuk menjaga kesehatan reproduksi perempuan, asupan gizi seimbang dan kecukupan cairan menjadi kunci utama. Ritme tidur perlu diatur ulang agar keseimbangan hormonal tetap terjaga selama Ramadan. Bagi perempuan dengan riwayat nyeri haid berat atau siklus tidak teratur, konsultasi dengan dokter sangat disarankan.
Halodoc menegaskan komitmennya dalam mendampingi masyarakat selama Ramadan. Layanan kesehatan digital Halodoc tersedia 24 jam, termasuk pada waktu dini hari saat sahur. Melalui fitur Chat Dokter, pengguna dapat berkonsultasi dengan ribuan dokter berpengalaman dari berbagai spesialisasi.
Selain itu, Halodoc menyediakan akses obat dan vitamin melalui Toko Kesehatan dengan pengiriman cepat. Layanan Digital Clinic seperti Haloskin dan HaloIntima juga hadir untuk memberikan solusi kesehatan kulit dan reproduksi yang dipersonalisasi dengan pendampingan tim dokter.
Pengguna juga dapat memanfaatkan HILDA, asisten digital Halodoc, untuk memperoleh informasi awal terkait kondisi kesehatan sebelum menentukan langkah layanan selanjutnya. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya Halodoc dalam meningkatkan literasi dan kesiapan kesehatan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai fase adaptasi awal puasa, masyarakat diharapkan dapat menjalani Ramadan dengan kondisi tubuh yang lebih optimal. Pendekatan kesehatan yang menyeluruh menjadi kunci agar ibadah tetap khusyuk tanpa mengabaikan kesejahteraan fisik.




























