Kecintaannya pada kilau, perhiasan berpendar, pakaian penuh detail, serta segala sesuatu yang memantulkan cahaya menjadi bagian dari identitas awalnya. Bagi Maria, proses tumbuh dewasa tidak pernah berarti meredupkan diri. Sebaliknya, tumbuh adalah tentang menemukan pencahayaan yang tepat agar bisa bersinar lebih terang.
Insting berani dan playful itu kemudian menjelma menjadi inti dari SUPERFLY. Single ini dibuka dengan pernyataan yang terasa lebih seperti manifesto dibandingkan sekadar lirik pembuka: “Baby I’m superfly / Got my body ody dressed superfly.” Kalimat tersebut menjadi sinyal awal bahwa BLINGOUTKID datang dengan sikap percaya diri yang tegas dan tanpa kompromi.
Berbeda dengan banyak anak seusianya, sumber inspirasi Maria tidak berasal dari kartun atau tayangan anak anak. Ia justru menemukan pencerahan sejak dini lewat RuPaul’s Drag Race Season 1. Dunia wig, makeup, drama, dan kepercayaan diri para drag queen yang bertransformasi menjadi alter ego memberi lebih dari hiburan. Pengalaman itu menjadi izin personal untuk berekspresi, berani tampil, dan menjadi diri sendiri secara penuh.
Ketertarikan tersebut terus tumbuh hingga masa remaja. Menonton Drag Race menjadi ritual, sementara tutorial makeup menjadi kebiasaan. Setiap transformasi yang ia saksikan di layar memberi bahasa baru tentang identitas, performa, dan keberanian. Namun di balik itu semua, dunia nyata tetap menyisakan ironi. Rasa percaya diri tidak selalu hadir dengan mudah di lingkungan sekolah.
Maria kerap merasa tidak sepenuhnya cocok berada dalam satu kelompok sosial tertentu. Banyak hari terasa janggal, seolah ia selalu berdiri sedikit di luar bingkai. Perasaan menjadi berbeda itu membentuk lapisan emosional yang kemudian banyak tercermin dalam karya musiknya di kemudian hari.
Semua berubah ketika ia tiba di rumah. Stres ditinggalkan di depan pintu, alis dicukur, dan wig dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Kamar tidur bertransformasi menjadi panggung personal. Di ruang inilah BLINGOUTKID menemukan kekuatan drag, bukan sekadar soal glamor, melainkan tentang menciptakan karakter dan menguasai kehadiran tanpa perlu banyak penjelasan.
Dari Kamar Tidur ke Panggung Global
Dalam dunia drag, menjadi lebay bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Prinsip itu pula yang mengalir kuat dalam SUPERFLY. Lagu ini merekam perasaan menjadi berbeda, namun tetap menyimpan mimpi besar. Hal tersebut terdengar jelas saat BLINGOUTKID menyanyikan: “I’m a small city girl tryna live the dream / I’m a whole different level, call me the supreme.”
Dorongan kreatif yang mentah namun jujur itu kemudian menarik perhatian 12WIRED. Alih alih perubahan instan, yang terjadi adalah proses pembentukan intens selama tiga tahun. Dalam periode tersebut, BLINGOUTKID dikembangkan secara menyeluruh, mulai dari penulisan lagu, identitas musik, performa panggung, hingga penguatan vokal dan disiplin emosional untuk karier jangka panjang.
Proses ini tidak berlangsung cepat. Setiap tahap dirancang untuk membangun fondasi yang cukup kuat agar BLINGOUTKID mampu menopang dunianya sendiri. Pendekatan tersebut mencerminkan keseriusan dalam mempersiapkan debut, bukan sekadar mengikuti arus industri musik.
Hasil dari perjalanan panjang itu adalah SUPERFLY, single debut yang sekaligus menjadi kisah asal usul BLINGOUTKID. Lagu ini diproduseri oleh kolektif produser ternama asal Amerika Serikat, The Orphanage, yang terdiri dari Zaire Koalo dan Trevor Brown. Sentuhan mereka menghadirkan produksi yang berani, presisi, dan penuh energi.
Secara musikal, SUPERFLY tampil dance driven dan confident. Produksi yang solid berpadu dengan lirik yang merayakan orisinalitas serta keberanian mengekspresikan diri. Salah satu penggalan lirik yang menegaskan hal tersebut berbunyi: “B**** I’m superfly with originality / Supremacy, flow so hard we go like woah.”
Dimensi performatif lagu ini diperkuat melalui koreografi dari TSUBAKILL, dance team perempuan asal Jepang. Kehadiran mereka menambahkan nuansa global yang selaras dengan visi BLINGOUTKID sebagai figur ekspresif, kuat, dan sulit diabaikan di atas panggung.
Lebih dari sekadar lagu dansa, SUPERFLY mendefinisikan BLINGOUTKID sebagai sebuah keberadaan. Lagu ini menceritakan perjalanan seorang anak introvert yang canggung secara sosial dan ingin diterima. Dalam prosesnya, ia belajar bagaimana menyatu tanpa benar benar terlihat, menjadi ahli dalam percakapan ringan, dan bertahan di ruang ramai tanpa koneksi nyata.
Ketika upaya menyesuaikan diri terasa lebih hampa daripada berdiri sendiri, BLINGOUTKID kembali pada satu hal yang selalu menyelamatkannya, yaitu ekspresi diri. Jurnal jurnal lama dibuka kembali, dan pikiran yang tak pernah terucap akhirnya menemukan suara.
Drag mengajarkannya satu pelajaran penting, bahwa menjadi berbeda bukanlah sesuatu yang perlu diperbaiki, melainkan diperbesar. Momen ini mencapai puncaknya dalam SUPERFLY, ketika kepercayaan diri tidak lagi dipinjam, tetapi diklaim sepenuhnya melalui lirik: “An independent woman ain’t need no man / It’s an ambition to dream, it’s a vision.”
Dengan SUPERFLY, BLINGOUTKID resmi melangkah ke panggung musik. Ia tidak hadir untuk meminta ruang, melainkan untuk mengambilnya. Debut ini menjadi penanda lahirnya suara baru yang berhenti mengecilkan diri dan mulai bersinar dengan caranya sendiri.