Rupiah Menguat Dua Hari Beruntun Setelah BI Tahan Suku Bunga
Tim Riset Bloomberg Technoz
20 February 2026 16:11

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat terbatas dalam penutupan perdagangan hari ini. Rupiah ditutup menguat 0,4% ke posisi Rp16.873/US$, setelah sempat melemah dalam pembukaan tadi pagi.
Ini merupakan penguatan kedua dalam penutupan perdagangan secara beruntun di pekan ini, setelah Bank Indonesia (BI) mempertahan tingkat suku bunga acuan di 4,75% yang sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar.
Gubernur Perry Warjiyo mengatakan langkah tersebut diambil demi menstabilkan mata uang dan menjaga pertumbuhan ekonomi, menyusul pemangkasan suku bunga kumulatif sebesar 150 basis poin sejak September 2024.
Dewan Gubernur kembali menegaskan pandangannya bahwa rupiah masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued) dan berkomitmen untuk mempertahankan intervensi aktif di pasar valuta asing, yang ditopang oleh cadangan devisa yang kuat.
BI meyakini langkah-langkah ini, bersama dengan fundamental ekonomi yang stabil, akan membantu rupiah untuk stabil dan secara bertahap menguat seiring waktu. Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan menguat pada kuartal I-2026, didukung oleh konsumsi rumah tangga yang lebih solid dan peningkatan investasi.
Meski begitu, rupiah tercatat telah susut sekitar 0,2% sepanjang pekan ini setelah para pembuat kebijakan mengindikasikan akan mengevaluasi ruang untuk pelonggaran moneter lebih lanjut. Terlebih bulan ini dan bulan depan pasar domestik mengadapi momentum Ramadan dan Idul Fitri yang umumnya mengerek inflasi. Sehingga ruang pelonggaran menjadi terbatas pada kuartal I-2026.
Dari sisi eksternal, neraca transaksi berjalan Indonesia kembali mencatat defisit pada kuartal IV-2025 setelah sempat surplus pada kuartal sebelumnya. Defisit ini disebabkan oleh kinerja ekspor riil yang tercatat lebih rendah daripada triwulan sebelumnya 8,3%.
Dalam data Neraca Pembayaran Indonesia yang dirilis BI tadi pagi, tercata bahwa kinerja NPI ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial. Dengan bergantung terhadap inflow finansial, ruang pelonggaran moneter justru menjadi lebih sempit.





























