Logo Bloomberg Technoz

Ilusi Proteksi di Balik Portofolio Digital


Office Desk (Dok. IFG Life)
Office Desk (Dok. IFG Life)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Di tengah penetrasi teknologi finansial yang semakin masif, masyarakat kerap menaruh perhatian besar pada pertumbuhan aset. Aplikasi keuangan di genggaman tangan memudahkan siapapun memantau nilai portofolio secara real time, mulai dari saham, reksa dana, hingga aset digital. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan yang kerap terabaikan: sejauh mana kekayaan yang telah dibangun benar-benar terlindungi?

Banyak individu merasa cukup aman dengan memiliki portofolio yang terdiversifikasi. Padahal, kekayaan yang terus bertumbuh tanpa perlindungan memadai sejatinya berdiri di atas fondasi yang rapuh. Risiko kehidupan, seperti sakit kritis, kecelakaan, hingga risiko meninggal dunia, dapat menggerus aset secara signifikan apabila tidak diantisipasi sejak awal.

Investasi berfungsi untuk membentuk kekayaan (wealth creation). Namun, tanpa asuransi jiwa yang melindungi kekayaan (wealth protection), seluruh akumulasi aset tersebut menjadi sangat rentan. Dalam konteks ini, asuransi jiwa dan kesehatan tidak dimaksudkan sebagai instrumen pengganda nilai, melainkan sebagai mekanisme perlindungan agar rencana keuangan jangka panjang tetap berada di jalurnya.


Risiko kesehatan menjadi salah satu ancaman paling nyata terhadap stabilitas finansial keluarga. Biaya perawatan medis yang tinggi kerap memaksa individu mencairkan tabungan, menjual aset investasi, bahkan berutang. Tanpa proteksi yang tepat, satu episode sakit serius dapat menghapus hasil investasi yang dibangun bertahun-tahun.

Berdasarkan proyeksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), inflasi biaya medis di Indonesia meningkat dari 10,1% pada 2024 menjadi 13,6% pada 2025. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan inflasi medis global yang diperkirakan berada di kisaran 7,2%.