Peran IFG Life Jaga Ketahanan Finansial di Tengah Perubahan Iklim

Bloomberg Technoz, Jakarta - Memasuki tahun 2026, diskusi mengenai perubahan iklim tidak lagi terbatas pada isu lingkungan atau kebijakan makro pemerintah. Fenomena ini telah bergeser menjadi faktor risiko yang sangat personal bagi masyarakat urban dan pelaku ekonomi, terutama dalam hal kesehatan dan stabilitas keuangan keluarga.
Cuaca ekstrem yang kian sering terjadi dan penurunan kualitas udara bukan sekadar gangguan kenyamanan, melainkan menjadi variabel baru dalam perencanaan keuangan jangka panjang. Sebagai gambaran, Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan, dampak perubahan iklim di Indonesia berpotensi menyebabkan kerugian antara 2,5% hingga 7% terhadap PDB nasional pada 2100. Termasuk di dalamnya adalah kerugian ekonomi di sektor kesehatan berupa lonjakan biaya medis.
Aspek kesehatan kini memang tidak lagi dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan di sekitar kita. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mewanti-wanti bahwa seluruh aspek kesehatan manusia terdampak oleh perubahan iklim, mulai dari ketersediaan udara bersih, air,tanah, hingga sistem pangan serta mata pencaharian kita. Pernyataan ini menegaskan bahwa tantangan medis di masa depan akan jauh lebih sistemik dan saling terkait dengan ekosistem tempat kita tinggal.
Dari Risiko Global ke Dampak Lokal
Korelasi antara kesehatan dan lingkungan ini turut terlihat di Indonesia. Perubahan iklim telah menjadi katalisator munculnya berbagai masalah kesehatan, baik berupa peningkatan penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Dari pergeseran pola penyebaran virus hingga dampak polusi terhadap sistem pernapasan dan jantung, risiko medis yang kita hadapi kini memiliki lapisan kompleksitas yang lebih tinggi.
Kenaikan risiko kesehatan berpotensi menciptakan pembengkakan biaya medis. Inflasi medis yang didorong oleh faktor lingkungan dapat menjadi biaya tak terduga yang secara perlahan menggerogoti aset dan tabungan yang telah dibangun dengan susah payah. Oleh karena itu, perencanaan kesehatan yang bijak di era ini menuntut kita untuk memasukkan faktor risiko iklim ke dalam strategi manajemen risiko pribadi.































