Di pasar offshore, kontrak rupiah Non Deliverable Forward melemah lebih dalam mencapai 0,18% dan saat ini tengah minus di posisi Rp 16.605/US$, mengisyaratkan pelemahan serupa kemungkinan besar terjadi (lagi).
Pasar keuangan global tergulung sentimen risk–off di hampir semua regional Asia karena memanasnya perang dagang antara AS dengan China yang ia bidik jadi target, Presiden Donald Trump mengatakan akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 100% terhadap China serta pengendalian ekspor untuk semua jenis perangkat lunak penting mulai 1 November.
Negara Xi Jinping tak terima dengan perlakuan Trump dan membalas dengan memberlakukan sanksi dan/atau larangan tertentu yang membatasi terhadap lima anak perusahaan Hanwha Ocean asal AS sebagai respons atas penyelidikan yang dilakukan Washington terhadap industri maritim, logistik, dan perkapalan China.
Entitas perusahaan asal AS yang terafiliasi dengan Hanwha Ocean Co., salah satu galangan kapal terbesar di Korea Selatan.
“Ketegangan yang terus berulang terkait tarif menambah kecemasan di pasar dan menunjukkan bahwa stabilitas yang ada masih sangat rapuh,” papar Guillermo Hernandez Sampere, Kepala Perdagangan di Perusahaan Manajemen Aset MPPM.
“Kesepakatan cepat diperlukan agar pasar tidak kehilangan keuntungan yang telah dicapai sebelumnya.”
Bergugurannya nilai mata uang Asia terjadi bersamaan dengan gelombang kejatuhan Bursa Saham Asia siang hari ini, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Bursa Saham Jepang, NIKKEI 225 dan TOPIX ambles lebih dari 2% siang ini. Di Korea Selatan, indeks KOSPI dan Kosdaq tergerus 1%.
Begitu juga harga saham di Bursa Saham China dan Hong Kong. Semua merah.
Seperti yang diberitakan Bloomberg News, putaran baru langkah balasan dari China memicu kembali kegelisahan pasar atas meningkatnya ketegangan dengan Washington.
Pengumuman dari Beijing itu kembali memicu kecemasan menyoal perang dagang antara kedua negara bisa memanas lagi.
“Langkah balasan terbaru China terhadap afiliasi AS milik Hanwha Ocean menandai eskalasi baru dalam rivalitas rantai pasok strategis, yang memperdalam ketegangan di tengah lanskap risiko global yang sudah rapuh,” terang Hebe Chen, Analis Pasar di Vantage Markets Melbourne.
“Pada intinya, langkah ini menguatkan narasi ‘de–risking’, menegaskan ketegangan antara AS dan China saat ini terus meluas melampaui industri semikonduktor — mencakup pula perindustrian dan maritim secara lebih besar. Kedua pihak tampaknya belum siap untuk gencatan senjata dekat–dekat ini,” tambahnya.
(fad)






























