Logo Bloomberg Technoz

Rupiah menyentuh level Rp16.400/US$ di pasar spot pada pukul 10:44 WIB, menjadikannya mata uang terlemah kedua di Asia sampai saat ini setelah dolar Taiwan. Mayoritas mata uang Asia tertekan, kecuali yen, yuan Tiongkok, yuan offshore, lalu dolar Hong Kong.

Pelemahan rupiah sudah berlangsung sejak kemarin yang memicu pergeseran aset ke SUN berdenominasi dolar AS, yakni seri INDON terutama tenor panjang seperti 20Y yang yield-nya terpangkas 3,5 bps dan 30Y yang turun 2,8 bps.  Yield 10Y INDON juga turun -1.7 bps menjadi 5.18%.

Hari ini, Pemerintah RI menggelar lelang SUN dengan target indikatif Rp27 triliun. Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) kemarin, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, peluang penurunan bunga acuan BI rate lebih lanjut masih terus diupayakan. 

Bila inflasi tetap terjaga rendah, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS stabil dan ekonomi domestik membutuhkan dorongan, maka BI rate bisa turun lagi. 

Perry menjelaskan sejak September 2024 hingga Mei 2025, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak 4 kali atau setara 100 basis poin. Saat ini BI rate berada di level 5,25%.

“Dasar pertimbangan [penurunan BI rate] adalah inflasi ke depan rendah dan akan tetap rendah. Akhir tahun ini IHK sekitar 2,5% dan inflasi inti sekitar 2,4%. Stablitas nilai tukar juga terjaga, dan kita perlu mendorong ekonomi. Jadi kebijakan suku bunga tetap konsisten dengan rendahnya perkiraan inflasi,” terang Perry.

(rui)

No more pages