Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Menguat Jelang Rilis Data Inflasi dan Neraca Dagang

Tim Riset Bloomberg Technoz
03 August 2026 09:19

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan pertama bulan ini terpeleset 0,08% di Rp18.014/US$. Namun, tak lama berselang pada 09.04 WIB, rupiah menguat 0,13% ke posisi Rp17.977/US$. 

Penguatan rupiah tertopang oleh meredanya harga minyak mentah yang melandai dengan adanya rencana kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Harga minyak Brent turun 4,7%  menjadi US$83,77 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun di bawah US$81 per barel. 


Sebagian besar mata uang Asia hari ini juga menguat tertopang oleh harga minyak yang jinak. Dari kawasan, won Korea Selatan memimpin penguatan 0,77%, disusul yen Jepang, peso Filipina, baht Thailand, dolar Singapura, rupiah, dan yuan offshore

Mata uang Asia pada Senin (3/8/2026), pada 09.05 WIB. (Bloomberg)

Penguatan dari won yang cukup tajam dan menonjol di kawasan tertopang oleh peningkatan pasokan dolar AS, lantaran SK Hynix mengonversi sebagian hasil dari penawaran American Depositary Receipt (ADR) Nasdaq menjadi won. Di sisi lain, para eksportir Korea Selatan juga disebut meningkatkan penjualan dolar AS.