Gerak Rupiah Terhalang Harga Minyak dan Sikap Hawkish The Fed
Tim Riset Bloomberg Technoz
16 September 2026 08:14

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah berisiko tertekan pada perdagangan Rabu (16/9/2026), dipicu oleh kenaikan harga energi. Harga minyak jenis Brent terus naik hingga sentuh US$108,75/barel, begitu juga West Texas Intermediate (WTI) di US$105,42/barel.
Kenaikan harga minyak ini mendorong rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) berada di kisaran Rp17.730/US$, tak jauh dari posisi penutupan perdagangan kemarin yang melemah 0,12%.
Dari Asia, yen Jepang melemah bersama won Korea, dolar Singapura, dan yuan offshore. Bank of Japan (BoJ) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1,25% dalam pertemuan pekan ini (17-18 September).
BoJ mengambil langkah pengetatan moneter demi meredam pelemahan yen Jepang, yang terdepresiasi sepanjang kuartal II-2026 sebesar 2,36% dan 1,79% pada kuartal I sebelumnya.
Bloomberg Economics memperkirakan BoJ menyampaikan pengetatan moneter ini dengan nada yang lebih hati-hati, dan berpotensi dibaca pasar sebagai sinyal dovish. Namun, pernyataan dari Anggota Dewan Gubernur BoJ Hajime Takata juga memicu spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga secara berturut-turut pada Oktober.
























