Logo Bloomberg Technoz

Buntut Bunga The Fed Naik, Biaya Impor Minyak RI Bisa Makin Mahal

Azura Yumna Ramadani Purnama
17 September 2026 16:05

Sebuah kapal tanker minyak berlabuh di fasilitas PT Pertamina di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian
Sebuah kapal tanker minyak berlabuh di fasilitas PT Pertamina di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Ekonom menilai impor minyak yang dilakukan Indonesia berpotensi makin mahal, imbas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi mengalami tren pelemahan gegara keputusan Federal Reserve (The Fed) mengkerek suku bunganya.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menyatakan kenaikan suku bunga The Fed dan sinyal hawkish yang diberikan bank sentral AS bakal memperbesar biaya impor Indonesia dari dua jalur sekaligus, yakni dolar yang lebih kuat dan pembiayaan global yang lebih mahal.

Dia mencatat posisi perdagangan migas Indonesia memang sudah rapuh. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit perdagangan migas Januari—Juli 2026 mencapai US$18,75 miliar, sedangkan indeks harga impor migas pada kuartal II-2026 melonjak 40,30% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya


“Jadi, masalah utamanya bukan sekadar kenaikan volume, melainkan kombinasi harga, kurs, dan kebutuhan energi yang sulit dikurangi cepat,” kata Syafruddin ketika dihubungi, Kamis (17/9/2026).

“Pemerintah perlu memperkuat pengadaan berjangka, diversifikasi sumber, efisiensi konsumsi BBM, dan pengelolaan stok agar shock dolar tidak langsung berubah menjadi tekanan neraca perdagangan dan fiskal,” tegas dia.