Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Melemah, Tersengat Sentimen Hawkish The Fed

Tim Riset Bloomberg Technoz
16 September 2026 09:26

Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan di level Rp17.689/US$. Namun, tak lama berselang, pada 09.03 WIB, rupiah terdepresiasi 0,22% ke Rp17.730/US$, menyusul tingginya harga energi dan memicu ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed. 

Melansir data Bloomberg, median estimasi survei memperkirakan Fed Fund Rate (FFR) akan akan terkerek di rentang 3,75%-4,00%. Angka inflasi Amerika Serikar (AS) yang membandel memicu ekspektasi bahwa The Fed kali ini harus benar-benar menaikkan suku bunga acuannya. 

Bahkan, berdasarkan FedWatch, pelaku pasar bulat bahwa The Fed akan mengerek FFR, dengan prakiraan bulat 100%. Inflasi di AS juga merembet ke pasar Asia, sebab harga minyak kembali naik Brent ke US$108/barel. 


Hal ini membuat mata uang kawasan terdepresiasi. Won Korea Selatan melemah 0,52%, disusul yen Jepang, dan rupiah. Sementara, pelemahan pada dolar Taiwan, dolar Singapura, dan baht Thailand lebih terbatas. Sebaliknya, hanya peso Filipina yang menguat pagi ini. 

Rupiah melemah bersama mata uang Asia. (Bloomberg)

Pergerakan mata uang Asia dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan betapa tekanan hawkish mulai terasa. Yen Jepang, dolar Taiwan, won Korea Selatan, termasuk rupiah juga, menjadi mata uang uang dengan kinerja terlemah terhadap dolar AS.