Sementara itu, seorang pejabat AS mengatakan aktor yang terkait dengan Iran juga memanfaatkan basis data iklan digital yang tersedia secara komersial guna melacak ponsel di wilayah Kurdistan, Irak utara.
"Iran benar-benar memiliki kemampuan untuk memperoleh informasi lokasi secara real-time, langsung, dan berkelanjutan," kata Gary Miller, peneliti senior di Citizen Lab, kepada FT.
Menurut Miller, akan mengejutkan apabila Iran tidak memanfaatkan akses ke jaringan seluler maupun sistem pensinyalan Signaling System 7 (SS7) di kawasan tersebut untuk melacak pengguna asal Amerika Serikat.
SS7 merupakan protokol komunikasi yang digunakan operator telekomunikasi di berbagai negara untuk menghubungkan jaringan seluler, termasuk mendukung layanan roaming internasional.
Baca Juga: AS Perketat Sanksi Iran, Bidik Jaringan Minyak dan Kripto
Selama bertahun-tahun, sistem tersebut menjadi sorotan peneliti keamanan siber karena memiliki sejumlah celah yang memungkinkan pihak tertentu melacak lokasi perangkat hingga mencegat komunikasi apabila memperoleh akses ke jaringan operator.
Dugaan operasi siber tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan fasilitas nuklir Pickaxe Mountain masuk dalam daftar target potensial serangan militer Amerika Serikat, sementara Iran memperingatkan akan memberikan "respons yang menghancurkan" apabila ancaman tersebut direalisasikan.
Temuan FT menunjukkan bahwa selain mengandalkan kekuatan militer konvensional, konflik modern juga semakin ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan infrastruktur digital dan jaringan telekomunikasi sebagai alat intelijen untuk memantau pergerakan lawan.
(fik/wep)






























