Indonesia Naik Kelas, Tapi Dibayar dengan Harga Lebih Mahal
Redaksi
16 July 2026 12:05

Bloomberg Technoz, Jakarta - Posisi Utang Luar Negeri (ULN) pemerintah RI pada Mei mengindikasikan perubahan struktural. Di balik kenaikan ULN pemerintah yang menjadi US$217,33 miliar, terdapat pergeseran besar dalam konteks sumber pembiayaan negara. Indonesia semakin meninggalkan pinjaman dari pemerintah asing dan lembaga internasional, beralih ke pembiayaan berbasis pasar lewat penerbitan surat utang global (global bonds).
Menilik data ULN yang dirilis Bank Indonesia (BI) pada Rabu (15/7/2026), pinjaman pemerintah RI yang berasal dari pemerintah asing dan lembaga internasional (official creditors) turun menjadi US$54,95 miliar pada Mei, menyusut sekitar US$1,84 miliar dari posisi Februari yang sebesar US$56,79 miliar.
Di dalam sumber ini, pinjaman bilateral juga menyusut menjadi hanya US$16,56 miliar dari periode tahun sebelumnya US$17,52 miliar, sementara pinjaman multilateral berada di US$38,39 miliar.
Sementara itu, pada struktur pinjaman multilateral, tercatat bahwa pinjaman dengan bunga rendah (concessional loans) sekarang tinggal US$115 juta. Sedangkan hampir seluruh pinjaman multilateral berubah menjadi non-concessional loans sebesar US$38,28 miliar, naik dari posisi Mei 2025 US$37,4 miliar.
Perubahan ini sebenarnya merupakan konsekuensi dari meningkatnya status ekonomi Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah (middle-income country).






























