“Belum, belum. Nanti penambahan, yang jelas kan kita sudah tahu kira-kira kebutuhan PLN, utamanya yang medium range [batu bara kalori menengah] di angka berapa. Kan kita sudah ada, nah itu yang kita exercise untuk yang [persetujuan pengajuan revisi RKAB] nanti,” tegas dia.
Tambahan Kuota
Pada kesempatan sebelumnya, Tri menyatakan Ditjen Minerba Kementerian ESDM sedang mempersiapkan tambahan kuota produksi batu bara demi menjaga keandalan pasokan listrik di dalam negeri.
Tri menegaskan penambahan alokasi ini dilakukan secara selektif, serta diprioritaskan untuk PLN.
"Untuk yang batu bara [tambahan] hanya diperuntukkan untuk yang PLN. Itu saja," ungkap Tri saat ditemui awak media di kantor Kementerian ESDM, Jumat (10/7/2026), petang.
Terkait dengan tenggat pengajuan revisi RKAB yang dibatasi hingga 31 Juli 2026, Tri mempersilakan para pelaku usaha untuk mengajukan permohonan. Ditjen Minerba akan menyaring secara ketat setiap pengajuan yang masuk.
"Enggak, enggak [menunggu sampai 31 Juli]. Ya silakan masukin, silakan. Kalau misalnya ini [tidak sesuai] kan tinggal ditolak-tolakin doang. Jangan sampai ada oversupply. Itu saja," tambah Tri.
Di sisi lain, Tri sebelumnya mengungkapkan telah menugaskan badan usaha pertambangan untuk memasok 212 juta ton batu bara ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) PLN dan swasta atau independent power producer (IPP).
Dia menyebut, besaran tersebut lebih besar dari kebutuhan batu bara PLN dan swasta sebesar 154 juta ton.
Hingga saat ini, Tri menyatakan Ditjen Minerba memperkirakan realisasi pengiriman batu bara ke PLTU PLN dan swasta telah mencapai 130,5 juta ton.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan perseroan mendapatkan tambahan batu bara kalori menengah dengan kadar di atas 4.500 kcal/kg sebanyak 16,8 juta ton hingga akhir 2026.
Tambahan pasokan ini terbagi menjadi 1,8 juta ton batu bara pada Juli. Kemudian, tambahan 3 juta ton masing-masing setiap bulan terhitung dari Agustus—Desember 2026.
"Adanya tambahan batu bara dengan spesifikasi 4.500 [kcal/kg] ke atas, yang Juli ini ada tambahan 1,8 juta ton on top dari yang eksis, kemudian Agustus sampai Desember ada tambahan 3 juta ton masing-masing tiap bulannya," ujar Darmawan agar agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Kamis (2/7/2026).
Darmawan menambahkan tambahan batu bara dengan kadar kalori di atas 4.500 kcal/kg tersebut diperoleh melalui penugasan khusus dari Kementerian ESDM.
Dia pun mengakui sistem kelistrikan di Pulau Jawa sempat mengalami kendala yang memicu pemadaman bergilir. Namun, intervensi pasokan batu bara baru ini berhasil memulihkan stabilitas sistem secara signifikan.
"Ini tentu saja membuat sistem di Jawa yang tadinya memang kami mengakui ada pemadaman bergilir, sistemnya langsung meningkat menjadi jauh lebih andal," tuturnya.
Menurut Darmawan, saat ini terjadi pergeseran tren di mana produksi batu bara kalori rendah terus meningkat, sementara ketersediaan batu bara kalori menengah dan tinggi justru mengalami penurunan.
"Sejalan dengan proses waktu, produksi batu bara kalori yang rendah itu meningkat, sedangkan produksi batu bara dengan kalori yang menengah dan tinggi semakin menurun," jelas Darmawan.
Melihat situasi tersebut, PLN bergerak cepat meminta dukungan regulasi dari pemerintah agar pasokan pembangkit listrik di Jawa tetap aman.
"Maka dalam hal ini Kementerian ESDM, kemudian dari PLN kami mengoreksi ini dengan adanya khusus pasokan batu bara dengan kalori menengah ke atas, on top dari existing supply," tambahnya.
Kementerian ESDM memangkas target produksi batu bara pada tahun ini di dalam RKAB 2026. Produksi batu bara pada RKAB 2026 menjadi sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi produksi pada 2025 sebanyak 817,48 juta ton.
(azr/wdh)



























